PENTAS.TV – Seorang penyelam asal China berinisial WS diduga membunuh seekor penyu saat melakukan penyelaman di perairan Kepulauan Fam, Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Aksi tersebut terekam dalam video berdurasi 36 detik yang kemudian beredar di media sosial dan memicu perhatian publik, khususnya kalangan pemerhati lingkungan serta wisata bahari.
Dalam rekaman tersebut, WS terlihat menyelam menggunakan peralatan skuba sambil membawa peralatan spearfishing. Terduga pelaku kemudian mengarahkan ujung speargun ke seekor penyu yang sedang berada di dasar perairan dekat terumbu karang.
Penyu tersebut kemudian diduga ditembak menggunakan speargun.
“Kami mengecam tindakan yang dilakukan turis tersebut, terutama membawa alat yang merusak lingkungan di kawasan konservasi dan membunuh penyu,” ujar Hasan Makassar, Kepala Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kepulauan Raja Ampat, Senin (14/9/2026).
Perairan Kepulauan Fam menjadi lokasi dugaan perburuan penyu tersebut. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan Raja Ampat dengan keindahan terumbu karang dan sejumlah titik penyelaman.
Kepulauan Fam juga merupakan gugusan pulau yang menjadi ikon Raja Ampat, termasuk kawasan puncak Piaynemo atau Pianemo.
Hasan mengatakan, WS diketahui berada di Raja Ampat pada 9-11 September 2026. Berdasarkan rentang waktu tersebut, dugaan perburuan penyu diperkirakan terjadi pada periode yang sama.
Pihak BLUD UPTD KKP Raja Ampat kemudian berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk kepolisian dan imigrasi, untuk menangani kasus tersebut.
“Pelaku sudah diamankan di Makassar. Selanjutnya pelaku akan dibawa ke Sorong untuk diproses lebih lanjut,” kata Hasan.
Menurut Hasan, penanganan kasus ini tidak hanya berkaitan dengan satu kejadian, tetapi juga menjadi bahan evaluasi terhadap pengelolaan aktivitas wisata di kawasan konservasi.
“Bagi kami, ini bukan hanya tentang menangani satu kejadian, tetapi juga memastikan ada pembelajaran dan perbaikan dari sisi pengelolaan wisata di kawasan konservasi,” ujarnya.
Hasan mengatakan pihaknya masih melakukan koordinasi dengan imigrasi dan kepolisian terkait penanganan lebih lanjut terhadap WS.
Ia menyebut proses hukum memungkinkan dilakukan karena terduga pelaku diduga membawa peralatan yang dapat merusak lingkungan di kawasan konservasi perairan serta menangkap atau membunuh penyu.
Seluruh jenis penyu berstatus sebagai fauna yang dilindungi di Indonesia.
Hasan juga mengingatkan pemandu wisata, pemilik penginapan, serta pusat penyelaman atau dive center yang beroperasi di Raja Ampat agar mematuhi aturan konservasi.
“Kami di sini sebagai pengelola agar keindahan Raja Ampat ini bisa terus berkelanjutan, yaitu membawa manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Direktur Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Muhammad Ilman mengapresiasi respons cepat dan kerja sama antara BLUD UPTD KKP Raja Ampat, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, Kantor Imigrasi, aparat penegak hukum, serta pihak lainnya.
Menurut Ilman, koordinasi tersebut membuat wisatawan yang diduga terlibat dapat diamankan di Makassar dan proses penanganannya dapat dilanjutkan di Sorong.
“Bagi kami, ini bukan hanya tentang menangani satu kejadian, tetapi juga memastikan ada pembelajaran dan perbaikan dari sisi pengelolaan wisata di kawasan konservasi,” ujar Ilman.
YKAN mendukung proses hukum berjalan sesuai ketentuan. Pada saat yang sama, seluruh pihak diharapkan dapat mengambil pelajaran dari kasus tersebut.
Ilman berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi dan kasus ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola wisata bahari yang bertanggung jawab di Raja Ampat.
Berdasarkan penelusuran pihak berwenang, WS diduga mengunggah konten aktivitas tersebut di media sosial di China.
Salah satu unggahan yang menjadi perhatian memperlihatkan penyu yang diduga telah diburu kemudian menjadi sajian.
Visual tersebut kemudian diketahui seseorang di China dan dibagikan kembali melalui Instagram. Dalam unggahan tersebut, sosok itu menyerukan agar pelaku segera ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Konten tersebut selanjutnya kembali diunggah oleh sejumlah pihak, termasuk praktisi wisata bawah air di Raja Ampat.
Identitas WS yang disebut sebagai instruktur selam dari sebuah lembaga pendidikan selam internasional turut mengundang kemarahan warganet dan para penikmat wisata bawah laut.
Kasus dugaan penembakan penyu ini kini menjadi perhatian karena terjadi di kawasan konservasi perairan Raja Ampat yang memiliki nilai penting bagi kelestarian ekosistem laut dan pengembangan wisata bahari berkelanjutan.(GIH/*)
