PENTAS.TV, KALIMANTAN – Di tengah kepulan asap dan hutan yang terbakar, ancaman bagi orang utan bukan hanya datang dari api.
Ketika pepohonan tempat mereka bergantung mulai hangus, sumber makanan menghilang dan koridor hutan terputus, orang utan dipaksa meninggalkan habitatnya untuk mencari tempat yang lebih aman.
Dalam beberapa pekan terakhir, kondisi tersebut mendorong tim konservasi melakukan penyelamatan terhadap puluhan orang utan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan.
Di Kalimantan Barat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia atau YIARI melakukan serangkaian operasi penyelamatan.
Data yang disampaikan kelompok konservasi menyebut 51 orang utan telah dievakuasi dari berbagai lokasi di Kalimantan Barat dalam periode yang diberitakan berlangsung sejak Agustus hingga Oktober 2026.
Sebelumnya, hingga 9 Oktober 2026, BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI mencatat sedikitnya 46 orang utan Kalimantan atau Pongo pygmaeus telah diselamatkan dari habitat yang terdampak kebakaran.
Satwa-satwa tersebut berasal dari sejumlah lokasi di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara.
Kebakaran membuat tutupan hutan menghilang dan memutus konektivitas antarkawasan. Akibatnya, orang utan terisolasi di kawasan perkebunan dengan sumber makanan dan ruang jelajah yang semakin terbatas.
Bagi orang utan, hutan bukan sekadar tempat berlindung. Hutan menyediakan makanan, air, tempat tidur, sekaligus ruang jelajah yang memungkinkan satwa ini bertahan hidup.
Ketika kebakaran menghanguskan habitat, persoalan tidak selesai setelah api dipadamkan.Sisa hutan yang terbakar dapat membuat orang utan mengalami kekurangan makanan, dehidrasi, malnutrisi hingga gangguan kesehatan lainnya.
Dalam sejumlah operasi penyelamatan di Kalimantan Barat, tim menemukan orang utan yang terjebak di kawasan perkebunan setelah habitat alaminya terdampak kebakaran.
Bahkan, beberapa satwa harus bertahan di area yang hanya menyisakan pepohonan di tengah kawasan perkebunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa penyelamatan orang utan dari karhutla bukan hanya soal menjauhkan satwa dari api, tetapi juga memastikan mereka memiliki habitat yang aman setelah dievakuasi.
Salah satu tahapan penting dilakukan ketika delapan orang utan yang telah dinyatakan sehat ditranslokasikan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Translokasi dilakukan setelah satwa menjalani pemeriksaan kesehatan dan observasi.
Lokasi tersebut dipilih dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber makanan dan air, ruang jelajah, serta konektivitas dengan kawasan hutan lainnya.
Hutan Lindung Batu Nyambu memiliki luas sekitar 23 ribu hektare, dengan tutupan hutan primer dan sekunder serta keterhubungan dengan kawasan hutan lindung dalam lanskap Arabella–Schwaner.
Kawasan tersebut juga berdasarkan survei pada 2023 dinilai memiliki daya dukung ekologis sebagai habitat alami orang utan. Namun, translokasi bukan akhir dari perjuangan.
Tim konservasi masih harus memastikan orang utan dapat beradaptasi dan memperoleh sumber pakan yang cukup. Patroli kawasan, perlindungan hutan, sosialisasi kepada masyarakat dan penanaman pohon penghasil buah menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan hidup satwa setelah dilepasliarkan.
Tidak semua orang utan yang diselamatkan dapat langsung kembali ke hutan. Sebagian masih membutuhkan perawatan intensif akibat luka bakar, malnutrisi, anemia berat dan gangguan kesehatan lainnya. Tim medis harus memastikan kondisi satwa cukup stabil sebelum menentukan langkah berikutnya.
Proses evakuasi pun dilakukan dengan sangat hati-hati. Dalam penyelamatan terbaru di Desa Hampangen, Kalimantan Tengah, pada 17 Oktober 2026, seekor orang utan jantan berusia sekitar 20 tahun dievakuasi oleh tim dari sejumlah lembaga konservasi.
Setelah dibius, satwa tersebut langsung menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum dibawa ke pusat rehabilitasi. Prosedur tersebut penting untuk mengurangi risiko selama proses evakuasi sekaligus mengetahui kondisi kesehatan orang utan sebelum menjalani perawatan lebih lanjut.
Dampak karhutla terhadap satwa liar ternyata jauh lebih luas. Kementerian Kehutanan melaporkan telah menangani 290 individu satwa liar terdampak karhutla hingga 8 Oktober 2026, dengan 272 individu berada di empat provinsi di Kalimantan.
Dari jumlah tersebut, orang utan menjadi salah satu satwa yang paling mendapat perhatian karena ketergantungannya terhadap habitat hutan.
Data Kementerian Kehutanan yang diberitakan pada pekan ini bahkan mengindikasikan jumlah orang utan yang diselamatkan di Kalimantan dalam beberapa bulan terakhir dapat mencapai 96 ekor. Namun, angka tersebut masih membutuhkan konfirmasi lebih lanjut dari pihak berwenang.
Karhutla yang berlangsung selama berbulan-bulan juga memberikan dampak luas terhadap manusia. Kabut asap menyebabkan kualitas udara memburuk, aktivitas luar ruangan terbatas dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Dampaknya bahkan meluas ke sejumlah negara di Asia Tenggara. Pada 18 Oktober, kualitas udara di sejumlah wilayah kembali berada dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Singapura dan Kuala Lumpur juga kembali masuk dalam daftar kota besar dengan tingkat polusi tinggi menurut pemantauan IQAir.
Kebakaran di Kalimantan dan Sumatra terus menjadi sumber asap, sementara kondisi cuaca yang dipengaruhi fenomena El Niño memperpanjang periode kering dan meningkatkan tekanan terhadap ekosistem.
Setiap orang utan yang berhasil dievakuasi memang menjadi kabar baik. Namun, bagi dunia konservasi, penyelamatan individual hanya merupakan satu bagian dari pekerjaan yang jauh lebih besar.
Orang utan membutuhkan hutan yang utuh. Tanpa habitat yang aman, satwa yang telah diselamatkan akan terus menghadapi risiko kehilangan makanan, konflik dengan manusia, dan ancaman kebakaran berikutnya.
Karena itu, upaya penyelamatan harus berjalan beriringan dengan perlindungan kawasan hutan, pencegahan karhutla, pemulihan habitat dan pengawasan kawasan secara berkelanjutan.
Sebab ketika api padam, perjuangan orang utan belum tentu selesai. Bagi satwa yang kehilangan rumahnya, pertanyaan terbesar justru dimulai setelah proses evakuasi: ke mana mereka harus kembali?
Dan jawaban atas pertanyaan itu bergantung pada satu hal—masihkah manusia mampu menjaga hutan yang tersisa sebagai rumah bagi mereka.(GIH/*)
