LIVEPENTAS TV NEWS
๐Ÿ“ Jawa Barat
Loading menu...
LIVEFX MARKET - IDR BASED
Loading FX...
๐Ÿ”ด BREAKING NEWS

57.000 Orang Utan Terancam, Guru Besar UGM Soroti Kematian Satwa Tak Tercatat

๐Ÿ“– 3 menit bacaโœ Singgih Jatmiko๐Ÿ•’ Minggu, 18 Oktober 2026 pukul 10.48
57.000 Orang Utan Terancam, Guru Besar UGM Soroti Kematian Satwa Tak Tercatat

Karhutla mengancam kelangsungan hidup orang utan Kalimantan dengan merusak habitat, menghilangkan sumber pakan, dan mengganggu keseimbangan ekosistem hutan.

PENTAS.TV, YOGYAKARTA โ€“ Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tidak hanya menimbulkan kabut asap yang mengancam kesehatan manusia, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa liar, terutama orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen dari populasi orang utan yang disebut berjumlah 57.000 individu sangat terdampak akibat kebakaran hutan.

Dampak tersebut terutama berkaitan dengan hilangnya habitat, sumber pakan, dan tempat berlindung yang dibutuhkan satwa untuk bertahan hidup.

Pernyataan itu disampaikan Wisnu dalam podcast UGM bertajuk Kebakaran Hutan dan Lahan: Sejarah, Antisipasi, dan Penanganannya, yang dikutip pada Minggu (18/10/2026).

Menurut Wisnu, kerusakan habitat akibat karhutla tidak hanya menghilangkan pepohonan, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem yang menopang kehidupan orang utan.

โ€œDari 57.000 itu yang 60%-nya itu betul-betul sangat terdampak akibat kebakaran hutan. Itu sangat berdampak sekali karena mereka itu kehilangan habitat-habitat,โ€ jelasnya.

Bagi orang utan, hutan merupakan sumber kehidupan. Beragam jenis tumbuhan menyediakan makanan sekaligus mendukung kebutuhan ekologis dan perilaku alami satwa tersebut.

Ketika kebakaran melanda kawasan hutan, vegetasi yang menjadi sumber pakan ikut musnah. Orang utan pun menghadapi risiko kekurangan makanan dan kehilangan tempat berlindung.

Kondisi tersebut semakin berbahaya ketika satwa harus melintasi lahan gambut atau permukaan tanah yang masih menyimpan bara setelah kebakaran.

Panas yang tersisa berpotensi menyebabkan luka pada satwa, terutama ketika mereka bergerak mencari tempat yang lebih aman.

Wisnu juga menyoroti dampak hilangnya keragaman tumbuhan terhadap perilaku self-medicated animal behavior, yakni perilaku satwa memanfaatkan sumber daya alam tertentu untuk membantu mengatasi gangguan kesehatan.

Menurutnya, keragaman pakan memiliki arti penting karena tumbuhan tertentu dapat dimanfaatkan orang utan dalam perilaku pengobatan mandiri.

Ia mencontohkan penelitiannya di kawasan Sebangau, Kalimantan, serta pengetahuan masyarakat Dayak mengenai sejumlah tanaman yang digunakan sebagai obat-obatan. Temuan dan pengamatan tersebut memperlihatkan pentingnya keragaman vegetasi bagi kehidupan satwa liar.

โ€œJadi, dia memerlukan keragaman pakan itu sebagai obat dia kalau sakit,โ€ ungkap Wisnu.

Dengan demikian, kebakaran hutan tidak hanya mengurangi ketersediaan makanan, tetapi juga berpotensi menghilangkan tumbuhan yang berperan dalam perilaku alami satwa.

Ancaman karhutla terhadap orang utan juga berkaitan dengan gangguan kesehatan akibat kebakaran dan kabut asap. Wisnu menyoroti iritasi mata serta infeksi saluran pernapasan yang dapat dialami orang utan. Dalam kondisi tertentu, gangguan kesehatan tersebut dapat berujung pada kematian.

Namun, jumlah satwa yang mati akibat karhutla diperkirakan sulit diketahui secara menyeluruh.

Petugas umumnya menemukan satwa terdampak di lokasi yang dapat dijangkau manusia, seperti jalur yang biasa dilalui. Sementara itu, kawasan hutan yang berada jauh dari akses manusia sulit dipantau.

Wisnu menyebut habitat orang utan di Kalimantan mencapai sekitar 1,9 juta hektare. Adapun habitat orang utan di Sumatra disebut sekitar 1,1 juta hektare.

Luasnya kawasan tersebut menjadi tantangan dalam melakukan pemantauan dan pendataan dampak kebakaran terhadap satwa liar.

โ€œYang ada di tengah itu enggak pernah ditemukan berapa yang mati. Sehingga asumsi kita sebetulnya banyak sekali kematian pada satwa-satwa liar yang ada di dalam hutan,โ€ imbuhnya.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi kemungkinan adanya kematian satwa yang tidak tercatat. Meski demikian, jumlah pasti orang utan yang mati akibat karhutla masih memerlukan data lapangan dan verifikasi lebih lanjut.

Kerusakan habitat akibat karhutla menjadi tantangan besar bagi upaya konservasi orang utan Kalimantan. Pemulihan hutan tidak cukup hanya dengan memadamkan api atau menanam kembali pepohonan. Restorasi perlu mempertimbangkan kebutuhan ekologis satwa, ketersediaan sumber pakan, serta keragaman vegetasi yang mendukung keberlangsungan ekosistem.

Pencegahan kebakaran juga harus menjadi bagian utama dari perlindungan satwa liar. Pengawasan pembukaan lahan, kesiapsiagaan menghadapi musim kering, serta pelibatan masyarakat sekitar hutan diperlukan untuk menekan risiko karhutla berulang.

Tanpa habitat yang memadai, orang utan akan terus menghadapi ancaman kehilangan sumber makanan dan tempat berlindung.

Karhutla pada akhirnya bukan sekadar persoalan kebakaran vegetasi. Kerusakan hutan dapat mengganggu seluruh ekosistem dan mengancam satwa yang bergantung pada kawasan tersebut.

Melindungi orang utan berarti menjaga habitatnya, mempertahankan keragaman tumbuhan, dan memastikan hutan tetap mampu menopang kehidupan satwa liar Indonesia.(GIH/*)

Disclaimer

Seluruh informasi yang dipublikasikan di pentas.tv disediakan hanya untuk tujuan informasi umum. Redaksi berupaya menyajikan informasi yang akurat, terkini, dan dapat dipertanggungjawabkan, namun tidak memberikan jaminan apa pun, baik secara tersurat maupun tersirat, mengenai kelengkapan, keakuratan, keandalan, atau kesesuaian informasi tersebut.

Segala tindakan yang Anda lakukan berdasarkan informasi di situs ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab Anda sendiri. pentas.tv tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian atau kerusakan yang timbul akibat penggunaan informasi dari situs ini.

Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab/koreksi, silakan menghubungi redaksi melalui halaman resmi pentas.tv.