LIVEPENTAS TV NEWS
📍 Jawa Barat
Loading menu...
LIVEFX MARKET - IDR BASED
Loading FX...
đź”´ BREAKING NEWS

Karhutla Ancam Gajah Sumatera, Habitat Rusak dan Konflik dengan Manusia Mengintai

📖 5 menit baca✍ Singgih Jatmiko🕒 Senin, 21 September 2026 pukul 11.52
Karhutla Ancam Gajah Sumatera, Habitat Rusak dan Konflik dengan Manusia Mengintai

Gajah sumatera berada di tengah ancaman kehilangan habitat akibat kebakaran hutan dan lahan. Karhutla tidak hanya mengurangi sumber pakan dan air, tetapi juga dapat memutus jalur pergerakan serta meningkatkan risiko konflik antara gajah dan manusia.

PENTAS.TV, – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat membuat gajah sumatera semakin kehilangan ruang hidup. Ancaman yang dihadapi satwa dilindungi ini bukan hanya api dan asap, tetapi juga berkurangnya ketersediaan pakan dan air, terputusnya jalur pergerakan, serta meningkatnya risiko konflik dengan manusia.

Habitat gajah yang terdampak kebakaran telah dilaporkan di sejumlah wilayah Sumatera. Namun, informasi mengenai gajah liar yang secara khusus sakit atau mati akibat menghirup asap masih terbatas.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Prof. drh. Wisnu Nurcahyo, mengatakan penanganan dampak karhutla terhadap gajah tidak cukup hanya dengan memadamkan api.

Menurutnya, pencegahan kebakaran, perlindungan habitat dan jalur pergerakan, pemantauan kesehatan, kesiapan tim medis, keterlibatan masyarakat, serta pemulihan kawasan harus dilakukan secara bersama-sama.

Wisnu yang banyak mendalami penelitian mengenai gajah sumatera dan meraih gelar Doktor der Veterinarmedizin (Dr. Vet. Med.) bidang Parasitologi Molekuler dari Freie Universität (FU) Berlin, menyampaikan hal tersebut dalam wawancara dengan Garda Animalia, Senin (14/9/2026).

Wisnu menjelaskan, gajah cenderung menghindari kawasan yang mengalami kebakaran hutan dan lahan. Kondisi tersebut dapat membuat kelompok gajah bergerak menjauhi habitatnya untuk menyelamatkan diri sekaligus mencari makanan dan sumber air.

Persoalannya, kawasan di luar hutan sering kali berupa perkebunan, permukiman, maupun jalan raya.

Akibatnya, gajah berpotensi lebih sering masuk ke kebun atau mendekati permukiman warga. Situasi ini dapat meningkatkan konflik antara manusia dan gajah.

Tanaman pertanian dapat rusak dan masyarakat merasa takut. Di sisi lain, gajah juga menghadapi berbagai risiko, seperti diusir, terkena jerat, tersengat pagar listrik, diracun, bahkan dibunuh.

Kebakaran juga dapat menyebabkan anak gajah terpisah dari induknya. Dalam kondisi panik, kelompok gajah dapat berpencar dan berpindah ke wilayah yang belum mereka kenal.

Dampak kebakaran tidak berhenti setelah api padam. Tumbuhan dan sumber pakan membutuhkan waktu untuk kembali pulih sehingga gajah masih dapat menghadapi keterbatasan sumber makanan dalam waktu tertentu.

Gajah membutuhkan wilayah yang luas untuk mencari makan, mendapatkan air, beristirahat, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Ketika hutan terbakar, tumbuhan yang menjadi sumber pakan dapat ikut musnah. Sumber air juga dapat berkurang atau tercemar abu, sementara jalur pergerakan gajah berpotensi terputus.

Kondisi tersebut membuat ruang hidup gajah semakin terdesak.

Karena itu, perlindungan habitat dan koridor pergerakan menjadi bagian penting dalam upaya konservasi gajah sumatera, terutama di kawasan yang memiliki riwayat kebakaran.

Selain kehilangan habitat, asap kebakaran juga berpotensi mengganggu kesehatan gajah.

Wisnu menjelaskan, asap kebakaran mengandung debu, partikel sangat halus, karbon monoksida, serta berbagai bahan berbahaya lainnya. Partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Gajah yang terpapar asap dapat mengalami mata merah dan berair, keluarnya cairan dari hidung, batuk, kesulitan bernapas, tubuh lemah, hingga kehilangan nafsu makan.

Pada paparan berat, gajah dapat mengalami kekurangan oksigen, gangguan paru-paru, kehilangan keseimbangan, bahkan pingsan.

Gajah yang berada terlalu dekat dengan api juga dapat mengalami luka bakar pada kulit, belalai, mata, dan telapak kaki.

Panas tinggi serta sulitnya memperoleh air dapat menyebabkan dehidrasi. Jika paparan asap berlangsung lama atau berulang, kondisi paru-paru dapat memburuk.

Daya tahan tubuh juga dapat menurun sehingga gajah lebih mudah terkena infeksi.

Kekurangan pakan dan stres berkepanjangan dapat memperburuk kondisi, terutama pada anak gajah, gajah tua, gajah bunting, dan gajah yang sebelumnya sudah sakit.

Kerusakan habitat dan perpindahan gajah akibat kebakaran telah dilaporkan di sejumlah wilayah.

Pada kebakaran 2019, sebagian habitat dan jalur pergerakan gajah di Suaka Margasatwa Padang Sugihan–Sebokor, Sumatera Selatan, dilaporkan mengalami kerusakan.

Pada tahun yang sama, seekor gajah di sekitar Tesso Nilo, Riau, juga dilaporkan memasuki perkebunan setelah habitatnya terdampak kebakaran.

Sementara itu, pada Agustus 2026 kebakaran terjadi di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Kementerian Kehutanan melaporkan area terdampak diperkirakan sekitar 673 hektare. Berdasarkan pemantauan petugas, gajah sumatera di habitat alami maupun Pusat Konservasi Gajah berada jauh dari lokasi kebakaran dan tidak terdampak langsung.

Menurut Wisnu, laporan mengenai kerusakan habitat dan perpindahan gajah akibat kebakaran memang sudah ada. Namun, laporan yang secara pasti menyatakan gajah sumatera liar sakit atau mati hanya karena menghirup asap masih sangat terbatas.

Hal itu bukan berarti asap tidak berbahaya. Kondisi kesehatan gajah liar memang sulit diperiksa secara langsung.

Gajah yang mengalami gangguan kesehatan ringan mungkin tidak terdeteksi, sementara bangkai yang terlambat ditemukan juga dapat menyulitkan penentuan penyebab kematian.

Wisnu mengatakan langkah paling penting untuk melindungi gajah adalah mencegah kebakaran sebelum terjadi.

Daerah yang sering terbakar perlu dipetakan dan dibandingkan dengan lokasi habitat, jalur pergerakan, serta sumber air yang digunakan gajah.

Pengawasan juga perlu ditingkatkan selama musim kemarau.

Masyarakat sekitar hutan dapat dilibatkan dalam patroli dan pelaporan dini. Pembukaan lahan dengan cara membakar harus dicegah, sementara pelanggaran perlu ditindak secara tegas.

Ketika kebakaran terjadi, petugas perlu memantau arah api, arah angin, ketebalan asap, dan pergerakan kelompok gajah.

Jalur yang digunakan gajah untuk menjauh dari api sebaiknya tidak ditutup. Gajah perlu diberi kesempatan bergerak menuju tempat yang lebih aman dan memiliki sumber air.

Masyarakat di sekitar jalur pergerakan gajah juga perlu segera mendapatkan informasi.

Tim penanganan konflik harus disiapkan agar warga tidak mengusir gajah menggunakan api, petasan berlebihan, racun, jerat, maupun pagar listrik yang berbahaya.

Wisnu mengingatkan bahwa pemindahan atau pembiusan gajah tidak selalu menjadi pilihan pertama.

Mengejar dan membius gajah ketika udara dipenuhi asap justru dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

Tindakan tersebut sebaiknya hanya dilakukan apabila gajah benar-benar terjebak atau berada dalam kondisi berbahaya serta berada di bawah pengawasan dokter hewan dan petugas berpengalaman.

Gajah yang diduga terkena paparan asap perlu diperiksa kondisi pernapasan, mata, belalai, kulit, telapak kaki, tingkat kesadaran, suhu tubuh, nafsu makan, serta kondisi cairan tubuhnya.

Jika diperlukan, gajah dapat diberikan oksigen, cairan, perawatan luka, obat untuk mengurangi rasa sakit, serta pengobatan lainnya berdasarkan hasil pemeriksaan dokter hewan.

Setelah api padam, sumber air juga harus diperiksa untuk memastikan tidak tercemar abu.

Ketersediaan pakan perlu dinilai, sedangkan kawasan yang terbakar harus dipulihkan dengan menanam kembali tumbuhan pakan alami dan memperbaiki jalur pergerakan gajah.

Pemantauan juga perlu dilakukan selama beberapa bulan setelah kebakaran. Kondisi tubuh, kesehatan, kelahiran, kematian, pergerakan kelompok, serta penyakit pada gajah perlu terus diamati.

Dengan demikian, penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi juga memastikan habitat, kesehatan, dan keselamatan gajah sumatera tetap terlindungi.(GIH/*)

Disclaimer

Seluruh informasi yang dipublikasikan di pentas.tv disediakan hanya untuk tujuan informasi umum. Redaksi berupaya menyajikan informasi yang akurat, terkini, dan dapat dipertanggungjawabkan, namun tidak memberikan jaminan apa pun, baik secara tersurat maupun tersirat, mengenai kelengkapan, keakuratan, keandalan, atau kesesuaian informasi tersebut.

Segala tindakan yang Anda lakukan berdasarkan informasi di situs ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab Anda sendiri. pentas.tv tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian atau kerusakan yang timbul akibat penggunaan informasi dari situs ini.

Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab/koreksi, silakan menghubungi redaksi melalui halaman resmi pentas.tv.