PENTAS.TV, KALIMANTAN – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kerusakan habitat menjadi perhatian serius bagi kelestarian satwa liar di Kalimantan. Kawasan yang dikenal memiliki keanekaragaman hayati tinggi ini merupakan rumah bagi berbagai spesies endemik, mulai dari Orangutan Kalimantan hingga pesut Mahakam.
Kondisi tersebut mendorong pemerhati konservasi dan satwa liar, Singky Soewadji, menyampaikan seruan “Pray for Kalimantan” pada Rabu (14/10/2026). Seruan ini menekankan pentingnya perlindungan hutan dan habitat satwa di tengah ancaman karhutla.
Hutan, sungai, rawa, hingga kawasan mangrove di Kalimantan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kerusakan kawasan tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup satwa yang bergantung pada habitat alaminya.
Salah satu satwa ikonik Kalimantan adalah orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), primata yang kehidupannya sangat bergantung pada keberadaan hutan.
Selain orangutan, Kalimantan juga menjadi habitat bekantan (Nasalis larvatus), primata berhidung panjang yang banyak ditemukan di kawasan mangrove dan tepian sungai.
Ancaman juga membayangi pesut Mahakam (Orcaella brevirostris), mamalia air tawar yang hidup di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
Kalimantan turut menjadi habitat berbagai satwa lain, seperti badak Kalimantan, beruang madu, macan dahan, owa kalawat, kukang, serta beragam jenis burung enggang.
Keberadaan satwa-satwa tersebut sangat bergantung pada kelestarian habitat dan ekosistem. Ketika kawasan hutan rusak atau terbakar, satwa berisiko kehilangan ruang hidup, sumber makanan, dan tempat berlindung.
Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan memberikan tekanan tambahan terhadap kehidupan satwa liar.
Hilangnya tutupan hutan dapat mempersempit ruang jelajah satwa. Dalam kondisi tertentu, satwa bisa terjebak di kawasan terbakar, mengalami luka, kehilangan sumber makanan, atau berpindah ke kawasan perkebunan dan permukiman warga.
Perubahan kondisi habitat tersebut juga berpotensi meningkatkan konflik antara satwa liar dan manusia. Risiko ini semakin besar ketika hutan terfragmentasi dan jalur pergerakan satwa terganggu.
Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan keselamatan manusia dan perlindungan lahan. Upaya tersebut juga menjadi bagian penting dari perlindungan ekosistem serta keberlangsungan satwa liar yang hidup di dalamnya.
Penanganan satwa yang terdampak kebakaran membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), lembaga konservasi, hingga organisasi penyelamatan satwa dan habitat.
Upaya penyelamatan dapat meliputi evakuasi, translokasi, pemeriksaan kesehatan, serta perawatan terhadap satwa yang ditemukan terluka atau terdampak kebakaran dan asap.
Sejumlah lembaga, seperti Yayasan IAR Indonesia (YIARI) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), juga menjalankan berbagai program perlindungan satwa dan ekosistem di Indonesia.
Kolaborasi antarlembaga diperlukan agar penanganan satwa tidak berhenti pada penyelamatan darurat, tetapi turut mendukung perlindungan dan pemulihan habitat dalam jangka panjang.
Ancaman karhutla di Indonesia juga mendapat perhatian dari sejumlah negara yang disebut telah mengerahkan atau menawarkan bantuan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Data yang dikutip dari Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyebut delapan negara telah mengerahkan pesawat udara, dengan total 36 helikopter maupun pesawat melalui mekanisme izin khusus.
Negara-negara tersebut meliputi Australia, Rusia, Amerika Serikat, Ukraina, Selandia Baru, Laos, Vietnam, dan Kanada. Amerika Serikat disebut menjadi salah satu negara dengan kontribusi unit terbanyak, yakni 14 helikopter.
Selain bantuan armada udara, Jepang disebut memberikan dukungan berupa kapal angkut KST Kunisaki, helikopter CH-47, serta personel untuk membantu operasi penanganan kebakaran di Indonesia.
Malaysia juga disebut menawarkan bantuan berupa satu pesawat Bombardier CL-415MP, tiga helikopter, serta sekitar 52 hingga 55 personel pemadam untuk mendukung penanganan karhutla di wilayah Kalimantan dan Sumatera.
Meski demikian, pelaksanaan bantuan tersebut tetap memerlukan koordinasi teknis dan respons resmi dari pemerintah Indonesia.
Kalimantan bukan sekadar kawasan yang memiliki bentang hutan luas. Wilayah ini merupakan rumah bagi berbagai spesies yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Ketika hutan terbakar dan habitat terfragmentasi, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya pepohonan. Rantai kehidupan satwa juga ikut terganggu.
Orangutan berisiko kehilangan ruang jelajah, bekantan menghadapi ancaman terhadap habitat di tepian sungai dan kawasan mangrove, sedangkan satwa lainnya dapat mengalami kesulitan memperoleh makanan dan tempat berlindung.
Karena itu, perlindungan Kalimantan membutuhkan pendekatan menyeluruh. Selain pemadaman api, langkah penting lainnya mencakup pencegahan kebakaran, perlindungan habitat, pemulihan ekosistem, dan penyelamatan satwa yang terdampak.
Seruan “Pray for Kalimantan” yang disampaikan Singky Soewadji pada akhirnya bukan sekadar ajakan untuk menyelamatkan hutan dari kebakaran, melainkan juga pengingat akan pentingnya menjaga rumah bagi berbagai kehidupan di dalamnya. (GIH/*)
Singky Soewadji
Pemerhati Konservasi dan satwa liar.
