LIVEPENTAS TV NEWS
📍 Jawa Barat
Loading menu...
LIVEFX MARKET - IDR BASED
Loading FX...
🔴 BREAKING NEWS

Pelepasan Tukik Langsung ke Laut Jadi Sorotan, Ini Penjelasan Ahli dari IPB University

📖 3 menit baca✍ Singgih Jatmiko🕒 Minggu, 11 Oktober 2026 pukul 10.25
Pelepasan Tukik Langsung ke Laut Jadi Sorotan, Ini Penjelasan Ahli dari IPB University

PENTAS.TV, BANDUNG – Cara pelepasan tukik atau anak penyu kembali ke laut menjadi perhatian setelah beredar video yang memperlihatkan sejumlah tukik dilepaskan langsung dari dalam ember menuju arah gelombang laut.

Dalam video tersebut, tukik tidak terlebih dahulu diletakkan di hamparan pasir pantai sebagaimana proses pelepasliaran yang umum dilakukan. Kondisi itu kemudian memunculkan berbagai komentar, termasuk kekhawatiran mengenai penerapan prinsip kesejahteraan satwa atau animal welfare.

Dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan IPB University, Dr. Mohammad Mukhlis Kamal, mengatakan pelepasan tukik langsung ke arah laut pada prinsipnya tidak menjadi masalah, selama dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi dan kesejahteraan tukik.

“Dengan cara melepaskannya saat ombak menghempas pantai, menurut opini saya tidak apa-apa. Gerakan dinamis air akibat hantaman ombak bukan masalah, karena tubuh tukik dengan kaki depan sebagai ‘dayung’ akan mengatasinya,” ujar Dr. Mukhlis.

Meski demikian, ia mengakui metode tersebut berpotensi menimbulkan stres pada tukik karena proses pelepasan tidak dilakukan secara perlahan.

Menurut Dr. Mukhlis, prinsip animal welfare memiliki lima aspek utama yang perlu diperhatikan dalam penanganan satwa.

Kelima aspek tersebut meliputi bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa takut atau stres, bebas mengekspresikan perilaku alamiah, serta bebas dari cedera dan rasa sakit.

Dalam kondisi normal, tukik umumnya dilepaskan dengan cara diletakkan di atas pasir pantai. Secara alamiah, apabila tukik ditempatkan dengan posisi berlawanan dengan arah hempasan air laut, tukik akan berbalik dan bergerak menuju laut.

Karena itu, menurut Dr. Mukhlis, metode pelepasan dapat disesuaikan dengan kondisi selama tetap memperhatikan kesejahteraan dan kemampuan alami tukik.

Selain metode pelepasan, hal lain yang menurut Dr. Mukhlis perlu mendapatkan perhatian adalah kontak langsung antara tangan manusia dengan tubuh tukik.

Ia mengatakan pengalaman dalam kegiatan pelepasan penyu di Pantai Pangumbahan, Jawa Barat, menunjukkan pentingnya meminimalkan sentuhan manusia terhadap tukik.

“Yang justru paling perlu diperhatikan adalah hindari kontak langsung tukik dengan tangan manusia saat akan melepaskannya. Mungkin khawatir ada kontak bakteri atau virus dari tangan manusia ke tukik,” katanya.

Prinsip tersebut penting dalam kegiatan konservasi karena interaksi manusia dengan satwa liar perlu dilakukan secara hati-hati untuk meminimalkan potensi gangguan terhadap kondisi satwa.

Dr. Mukhlis menegaskan bahwa konservasi penyu tidak hanya berkaitan dengan kegiatan pelepasliaran tukik. Perlindungan habitat juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan populasi penyu.

Upaya konservasi dilakukan melalui perlindungan lokasi peneluran, habitat tempat mencari makan, serta penyediaan koridor migrasi melalui marine protected area (MPA) atau kawasan konservasi perairan.

Selain perlindungan habitat, intervensi manusia juga dapat dilakukan melalui kegiatan penangkaran. Telur penyu yang ditemukan di lokasi peneluran dapat dilindungi dan, dalam kondisi tertentu, dipindahkan ke tempat penangkaran untuk menjalani proses penetasan dengan perlakuan suhu tertentu.

Langkah tersebut bertujuan mengurangi ancaman terhadap telur penyu, termasuk perburuan manusia dan predator seperti babi, anjing, biawak, serta satwa lainnya.

Setelah menetas menjadi tukik, anak penyu kemudian dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.

Menurut Dr. Mukhlis, waktu pelepasan juga menjadi faktor penting dalam kegiatan konservasi penyu. Ia menyebut waktu ideal pelepasan tukik berada sekitar satu minggu setelah menetas.

“Bilamana ditahan terlalu lama, dikhawatirkan akan mengurangi kemampuan nalurinya untuk ‘pulang’,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi penyu tidak hanya ditentukan oleh jumlah tukik yang berhasil ditetaskan dan dilepasliarkan, tetapi juga bagaimana seluruh proses dilakukan dengan memperhatikan perilaku alami, kesehatan, kesejahteraan satwa, serta keberlanjutan habitatnya.(GIH/*)

Disclaimer

Seluruh informasi yang dipublikasikan di pentas.tv disediakan hanya untuk tujuan informasi umum. Redaksi berupaya menyajikan informasi yang akurat, terkini, dan dapat dipertanggungjawabkan, namun tidak memberikan jaminan apa pun, baik secara tersurat maupun tersirat, mengenai kelengkapan, keakuratan, keandalan, atau kesesuaian informasi tersebut.

Segala tindakan yang Anda lakukan berdasarkan informasi di situs ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab Anda sendiri. pentas.tv tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian atau kerusakan yang timbul akibat penggunaan informasi dari situs ini.

Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab/koreksi, silakan menghubungi redaksi melalui halaman resmi pentas.tv.