LIVEPENTAS TV NEWS
📍 Jawa Barat
Loading menu...
LIVEFX MARKET • IDR BASED
Loading FX...
đź”´ BREAKING NEWS

Terkuak! Kemunculan Ular Kukri Gunung Jawa Buka Tabir Krisis Hutan Pegunungan

📖 4 menit baca✍ Surya Dharma🕒 Senin, 13 Juli 2026 pukul 08.04
Terkuak! Kemunculan Ular Kukri Gunung Jawa Buka Tabir Krisis Hutan Pegunungan

Di Balik Kemunculan Ular Kukri Gunung Jawa, Ada Ancaman yang Diam-Diam Menggerus Habitatnya | Credit: Denny | Source: Denny

Bandung, PentasTV - Perjumpaan dengan ular itu hanya berlangsung beberapa menit. 

Tubuhnya kecil, berwarna cokelat kusam, hampir menyatu dengan serasah daun yang lembap di lereng Gunung Anjasmoro, Jombang, Jawa Timur. 

Namun, kemunculan ular kukri gunung jawa (Oligodon bitorquatus) bukan sekadar penemuan satwa liar.

 Ia adalah penanda bahwa bentang alam pegunungan Jawa masih menyimpan kehidupan yang selama ini nyaris tak terdokumentasikan.

Ironisnya, ketika keberadaannya mulai terungkap, habitat reptil endemik tersebut justru menghadapi tekanan yang semakin besar.

Di banyak pegunungan Pulau Jawa, hutan yang selama puluhan tahun menjadi rumah berbagai jenis herpetofauna terus berubah wajah.

 Kawasan penyangga hutan lindung berangsur menjadi kebun kopi, jeruk, hingga lahan agroforestri.

 Fragmentasi habitat berlangsung perlahan, sering kali tanpa disadari, sementara data ilmiah mengenai satwa yang hidup di dalamnya masih sangat terbatas.

Temuan ular kukri di kawasan Wonosalam pada Juli 2026 menjadi alarm bahwa masih banyak spesies pegunungan Jawa yang luput dari perhatian konservasi.

Awalnya, kami sama sekali tidak menargetkan menemukan spesies tersebut. Hanya melakukan inventarisasi satwa liar di kawasan hutan sekunder lereng Anjasmoro.

Saat menuruni jalur yang licin akibat hujan semalam, di balik potongan kayu lapuk ada pergerakan dan setelah dibuka ternyata ada ular.

Awalnya, kami memperlakukan reptil itu layaknya ular berbisa. Prinsip itu menjadi prosedur wajib dalam setiap survei lapangan.

Baru setelah pola sisik, bentuk kepala, hingga susunan tubuh diperiksa menggunakan snake hook, dipastikan ular tersebut adalah Oligodon bitorquatus, salah satu anggota kelompok ular kukri yang dikenal tidak berbisa.

Lebih Banyak Misteri daripada Jawaban

Berstatus Least Concern dalam Daftar Merah IUCN bukan berarti ular kukri gunung jawa berada dalam kondisi aman.

Status itu justru menyimpan paradoks. Populasinya belum dianggap terancam, tetapi informasi mengenai penyebaran, ukuran populasi, perilaku reproduksi hingga dinamika ekologinya masih sangat minim.

Sebagian besar literatur hanya mencatat ular ini hidup di kawasan pegunungan Pulau Jawa, mulai Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, pada ketinggian sekitar 300–1.200 meter di atas permukaan laut. Selebihnya masih berupa catatan lapangan yang tersebar dan belum terintegrasi.

Dengan kata lain, ilmuwan bahkan belum benar-benar mengetahui berapa banyak populasi ular kukri yang masih bertahan di alam.

Minimnya data membuat spesies seperti ini nyaris tak pernah masuk dalam prioritas pengelolaan kawasan.

Padahal, menurut sejumlah herpetolog, reptil merupakan indikator penting kesehatan ekosistem. Hilangnya satu jenis ular sering kali menjadi sinyal awal terganggunya rantai makanan di lantai hutan.

Pemburu Telur dengan Gigi Seperti Pisau Nepal

Nama "kukri" bukan berasal dari sifat agresifnya.

Sebutan itu merujuk pada bentuk gigi belakang rahang atas yang melengkung menyerupai pisau kukri, senjata tradisional Nepal.

Struktur gigi tersebut merupakan hasil adaptasi evolusi yang sangat spesifik.

Berbeda dengan ular pemangsa tikus atau mamalia kecil, ular kukri lebih banyak berburu telur reptil. Gigi tajam itu digunakan untuk menyayat cangkang telur sebelum isinya ditelan.

Kemampuan tersebut membuat ular kukri memiliki peran ekologis yang unik dalam menjaga keseimbangan populasi satwa lain di hutan.

Meski tidak memiliki bisa, gigitan ular ini tetap dapat menimbulkan luka sayatan karena bentuk giginya menyerupai bilah kecil yang tajam.

Hutan Jawa Terus Menyusut

Yang lebih mengkhawatirkan bukanlah ular kukri itu sendiri, melainkan rumahnya.

Di Wonosalam, lokasi penemuan berada pada kawasan penyangga antara hutan lindung dan hutan produksi di sekitar Tahura Raden Soerjo.

Kawasan itu masih memiliki kanopi rapat dengan vegetasi pinus, eukaliptus dan pohon pegunungan. Kondisi tersebut menciptakan lantai hutan yang lembap, penuh serasah daun—mikrohabitat ideal bagi ular kukri.

Namun bentang alam tersebut mulai terfragmentasi.

Peneliti Sahabat Alam Indonesia, Agus Nurrofik, mencatat ekspansi perkebunan kopi dan jeruk menjadi perubahan paling nyata dalam beberapa tahun terakhir.

Alih fungsi lahan memang tidak selalu menghilangkan seluruh vegetasi. Namun perubahan struktur hutan mengubah suhu, kelembapan, hingga ketersediaan pakan yang dibutuhkan satwa lantai hutan.

Bagi spesies yang memiliki wilayah jelajah sempit seperti ular kukri, perubahan kecil dapat berdampak besar terhadap keberlangsungan populasinya.

Satwa yang Terlambat Dikenal

Pulau Jawa dikenal sebagai wilayah dengan tingkat kehilangan hutan tertinggi dibanding pulau besar lain di Indonesia.

Ironisnya, di saat tekanan terhadap ekosistem pegunungan terus meningkat, pengetahuan mengenai banyak satwa endemik justru masih tertinggal.

Ular kukri gunung jawa menjadi contoh nyata bagaimana spesies asli Indonesia masih hidup dalam "wilayah gelap" ilmu pengetahuan.

Dokumentasi lapangan baru bermunculan, sementara perubahan lanskap berlangsung jauh lebih cepat daripada penelitian.

Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin sebagian spesies pegunungan akan menghilang sebelum benar-benar dipahami perannya dalam ekosistem.

Perjumpaan singkat di lereng Gunung Anjasmoro akhirnya menyisakan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar identifikasi seekor ular: berapa banyak satwa endemik pegunungan Jawa yang masih bertahan, tetapi luput dari perhatian hingga habitatnya perlahan lenyap?***

Disclaimer

Seluruh informasi yang dipublikasikan di pentas.tv disediakan hanya untuk tujuan informasi umum. Redaksi berupaya menyajikan informasi yang akurat, terkini, dan dapat dipertanggungjawabkan, namun tidak memberikan jaminan apa pun, baik secara tersurat maupun tersirat, mengenai kelengkapan, keakuratan, keandalan, atau kesesuaian informasi tersebut.

Segala tindakan yang Anda lakukan berdasarkan informasi di situs ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab Anda sendiri. pentas.tv tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian atau kerusakan yang timbul akibat penggunaan informasi dari situs ini.

Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab/koreksi, silakan menghubungi redaksi melalui halaman resmi pentas.tv.