Bandung, Pentas.TV - Kunang-kunang yang dahulu mudah dijumpai di persawahan, tepian sungai, hingga pekarangan rumah kini semakin langka.
Menurut peneliti dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, kondisi ini menjadi tanda menurunnya kualitas lingkungan.
Dosen dan peneliti entomologi IPB University, Kesumawati Hadi, mengatakan kunang-kunang merupakan bioindikator yang mencerminkan kesehatan suatu ekosistem.
"Kunang-kunang merupakan bioindikator, yaitu organisme yang keberadaan atau ketidakhadirannya dapat mencerminkan kesehatan suatu ekosistem. Ketika kualitas lingkungan memburuk, populasinya akan cepat menyusut bahkan menghilang," ujar Kesumawati dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa 7 Juli 2026.
Ia menjelaskan, penyebab utama penurunan populasi kunang-kunang adalah kerusakan habitat akibat alih fungsi lahan hijau, rawa, dan persawahan menjadi kawasan permukiman maupun industri.
Selain itu, polusi cahaya dari lampu LED yang terlalu terang turut mengganggu siklus reproduksi. Cahaya buatan membuat kunang-kunang jantan kesulitan mengenali sinyal cahaya yang dipancarkan betina sehingga proses perkawinan terganggu.
Menurut data International Union for Conservation of Nature (IUCN), sekitar 11–20 persen spesies kunang-kunang di dunia kini masuk kategori terancam. Sejumlah spesies di kawasan mangrove Indonesia, Malaysia, dan Thailand bahkan telah berstatus rentan.
Kesumawati menambahkan, penggunaan insektisida kimia, perubahan iklim, semenisasi saluran irigasi, dan urbanisasi juga mempercepat penyusutan populasi.
Ia mengajak masyarakat menjaga habitat alami dengan mengurangi penggunaan lampu luar ruangan yang berlebihan, memanfaatkan pupuk organik, tidak menutup seluruh halaman dengan semen, serta menjaga kebersihan sungai.
Upaya sederhana itu dinilai penting agar kunang-kunang tetap menjadi bagian dari ekosistem dan tidak hanya dikenal generasi mendatang melalui buku atau museum.***
