PENTAS.TV - Sebagai korporasi public service berbendera Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor transportasi, keamanan, keselamatan, kelancaran, dan kenyamanan operasional serta perjalanan merupakan aspek krusial.
Kondisi itu juga sangat berlaku bagi PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero).
Buktinya, hingga kini, PT KAI (Persero) melakukan dan menerapkan berbagai cara serta strateginya agar setiap perjalanan aman, lancar, nyaman, dan kondusif.
Berkenaan dengan keamanan, ada satu hal yang juga termasuk fokus dan perhatian serius korporasi pelat merah yang dahulu bernama Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) ini, yakni kekerasan dan pelecehan seksual.
PT KAI (Persero) menyatakan, bahwa siapa pun berpotensi menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual, tidak hanya remaja dan dewasa, tetapi juga anak-anak.
Karena itu, berkenaan dengan Hari Anak Nasional 2026, bersama komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) di Wilayah 2 Bandung, PT KAI (Persero) menyosialisasikan kampanye "Stop Kekerasan dan Pelecehan Seksual pada Ruang Publik" di Stasiun Bandung.
Agenda ini tidak hanya pihaknya gulirkan di Stasiun Bandung, tetapi juga di Stasiun Cianjur, bersama Komunitas Railfans Cianjur dan The Youth Advisory Group.
"Kampanye ini termasuk komitmen kami menciptakan transportasi publik yang aman, nyaman, lancar, kondusif dan ramah bagi masyarakat, khususnya perempuan dan anak-anak," tandas Hendra Wahyono, Executive Vice President (EVP) PT KAI (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung.
Hendra Wahyono mengatakan, faktor keselamatan dan keamanan tidak hanya pada operasional perjalanan, tetapi juga perlindungan seluruh penumpang dari berbagai bentuk aksi kejahatan, baik sebelum, selama, maupun sesudah perjalanan.
Dia mengatakan, melalui kegiatan ini, pihaknya mengajak masyarakat agar lebih berani mengenali, mencegah, serta melaporkan setiap bentuk kekerasan dan pelecehan seksual pada lingkungan transportasi publik.
Aga berbagai aksi kejahatan, termasuk kekerasan dan pelecehan seksual, terantisipasi dan terminmalisir secara lebih optimal, Hendra Wahyono menyatakan, pihaknya menyempurnakan dan memperkuat sistem keamanan.
Antara lain, sebutnya, mengerahkan personil keamanan, baik pada lingkungan stasiun maupun saat perjalanan kereta.
Lalu, kata dia, memperbanyak pemasangan The Closed Circuit Television (CCTV) pada lokasi-lokasi strategis stasiun dan kereta.
"Koordinasi dengan jajaran kepolisian pun terus kami lakukan secara intensif," tutup Hendra Wahyono. (*)
