PENTAS.TV, BANDUNG – Pergerakan penumpang kereta api di wilayah Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang 2026.
Vice President Corporate Communication PT KAI, Anne Purba, mengatakan jumlah penumpang kereta api secara nasional mengalami peningkatan sekitar 7 persen atau mendekati 400 juta penumpang. Sementara di wilayah Daop 2 Bandung, pertumbuhan penumpang kereta jarak jauh dan kereta lokal mencapai hampir 11 persen.
“Lebih dari 8 juta orang menggunakan kereta api di wilayah Daop 2,” ujar Anne Purba, Rabu (14/10/2026).
Menurutnya, pertumbuhan tersebut juga didukung oleh konektivitas antarmoda, terutama integrasi bus dengan kereta lokal dan kereta jarak jauh.KAI mencatat mobilitas warga negara asing yang masuk maupun meninggalkan Bandung melalui konektivitas tersebut juga cukup signifikan. Jumlah perjalanan naik dan turun warga negara asing disebut telah mendekati 1 juta pengunjung.
Salah satu kereta yang mencatat performa luar biasa adalah Sangkuriang. Anne menyebut rata-rata tingkat okupansi kereta tersebut telah mencapai sekitar 250 persen. Pada akhir pekan dan masa liburan, okupansinya bahkan dapat mencapai 280 persen. Padahal, kereta tersebut belum genap satu tahun beroperasi.
“Kalau weekend dan liburan itu bisa mencapai 280 persen, padahal kereta ini belum satu tahun,” katanya.
Menurut Anne, pengembangan konektivitas perjalanan juga ikut mendorong mobilitas ke berbagai daerah yang dilalui kereta. Salah satunya setelah dibukanya koneksi perjalanan Bandung-Banyuwangi. Kondisi tersebut membuat wilayah yang menjadi tujuan perjalanan kereta ikut mendapatkan manfaat dari meningkatnya mobilitas masyarakat.
Sejalan dengan pertumbuhan penumpang, KAI juga melakukan pengembangan fasilitas stasiun. Salah satu proyek yang menjadi fokus pada 2026 adalah pengembangan Stasiun Tasikmalaya.
Anne menjelaskan terdapat empat fokus utama dalam pengembangan stasiun, yakni konektivitas, integrasi antarmoda, peningkatan pelayanan pelanggan, serta pengembangan kawasan wisata berbasis Transit Oriented Development (TOD).
Di sisi keselamatan perjalanan, KAI juga terus melakukan sosialisasi dan penataan perlintasan sebidang. Secara nasional, terdapat 190 titik yang menjadi fokus penanganan KAI dan 172 di antaranya disebut telah ditutup.
Sementara di wilayah Daop 2 Bandung, KAI telah memiliki empat garasi baru untuk petugas penjaga perlintasan (PJL), lengkap dengan petugas serta perangkat pendukung prasarana. Hingga akhir 2026, KAI masih melakukan survei terhadap lebih dari 50 perlintasan di wilayah Daop 2 Bandung.
Perlintasan yang dinilai tidak memenuhi persyaratan akan ditutup. Sementara perlintasan yang memenuhi persyaratan akan dilengkapi petugas dan perangkat keselamatan.
Terkait pemberitaan kenaikan harga tiket kereta api di sejumlah wilayah, Anne menegaskan bahwa perubahan tarif tidak berarti seluruh tiket KAI mengalami kenaikan. Menurutnya, KAI menerapkan sistem tarif progresif atau harga yang bersifat dinamis.
Harga tiket ditentukan dengan tetap berada dalam batas tarif bawah dan tarif atas. Penentuan harga juga mempertimbangkan jarak perjalanan, waktu pembelian, tingkat okupansi, serta tingkat minat masyarakat terhadap kereta tertentu.
“Kita harus merencanakan perjalanan. Yang merencanakan perjalanan akan mendapatkan harga yang lebih kompetitif,” jelas Anne.
Ia juga menegaskan, penerapan tarif progresif tidak otomatis membuat seluruh perjalanan menjadi lebih mahal. Dalam kondisi tertentu, harga tiket justru dapat lebih murah dibandingkan sebelumnya.
Untuk saat ini, tarif khusus yang mengalami perubahan disebut terdapat di Daop 5 dan Daop 8, sementara secara umum KAI tetap menerapkan rentang tarif batas bawah dan batas atas.
Anne menambahkan, lebih dari 90 persen pengguna kereta api merupakan pengguna layanan dengan skema Public Service Obligation (PSO). Adapun kurang dari 10 persen pengguna berada pada segmen yang dapat dikelola secara komersial.
Selain pengembangan kereta reguler, KAI juga memperkenalkan Nusantara Explorer sebagai layanan perjalanan wisata dengan konsep berbeda. Anne mengatakan Nusantara Explorer telah diluncurkan dan saat ini sudah dapat dipesan.
Namun, kereta tersebut tidak akan beroperasi sebagai kereta reguler. Masyarakat dapat menyewanya secara khusus atau mengikuti program open trip yang nantinya disiapkan KAI.
Konsep perjalanan Nusantara Explorer dirancang menyerupai kapal pesiar. Penumpang dapat melakukan perjalanan selama beberapa hari dengan fasilitas tidur dan makan di dalam kereta sekaligus mengunjungi sejumlah destinasi wisata.
Salah satu konsep perjalanan yang disiapkan misalnya paket tiga hari dua malam. Karena bersifat perjalanan wisata dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, tarif Nusantara Explorer tidak dipatok dalam satu harga tunggal.
“Bisa dicarter, bisa juga open trip,” kata Anne.
Dengan konsep tersebut, Nusantara Explorer diarahkan menjadi alternatif perjalanan wisata berbasis kereta api yang menawarkan pengalaman berbeda dari layanan kereta penumpang reguler. (GIH/*)
