PENTAS.TV - BANDUNG, Beragam dinamika global, seperti konflik geopolitik di Timur Tengah, yang terjadi selama beberapa waktu terakhir, memang berdampak pada sektor-sektor ekonomi.
Meski demikian, perekonomian Jabar masih menunjukkan geliat positif. Satu indikatornya yakni neraca perdagangan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional Jabar menginformasikan, selama periode Januari-Mei 2026, neraca perdagangan Jabar mengalami surplus..
"Selama lima bulan 2026, nilai ekspor Jabar pada level 15,97 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp287,71 triliun," tandas Darwisman, Kepala OJK Regional Jabar, pada Media Up-Date Triwulan II 2026 di kawasan Jalan Sulanjana Bandung.
Nilai ekspor Jabar tersebut, lanjut Darwisman, melebihi impor, yang nominalnya 11,31 miliar dolar AS, atau sekitar Rp203,77 triliun.
"Artinya, neraca perdagangan Jabar mengalami surplus 11,31 miliar dolar AS atau sekitar Rp203,77 triliun," sambung Darwisman.
Sektor industri, ujar Darwisman, menjadi kontributor ekspor paling akbar. Persentasenya, sebut dia, yakni 98,76 persen.
Selebihnya, kata dia, merupakan kontributor sektor minyak dan gas bumi (migas) sebesar 0,62 persen.
"Lalu, sebesar 0,61 persen merupakan kontribusi sektor pertanian. Lainnya, yakni sekitar 0,01 persen adalah sumbangsih sektor tambang," paparnya.
Selama Januari-Mei 2026, ada tiga negara yang menjadi tujuan ekspor utama Jabar. Yaitu AS, Filipina, dan Vietnam
AS tetap menjadi negara tujuan ekspor utama tatar Pasundan. Nilai ekspornya, sebut Darwisman, yakni 2,47 miliar dolar AS atau sekitar Rp44,63 triliun.
"Kemudian, Filipina. Nilai ekspornya 1,46 miliar dolar AS, atau sekitar Rp26,37 triliun. Sedangkan nilai ekspor Jabar ke Vietnam bernominal 803,59 juta dolar AS atau sekitar Rp14,52 triliun," tutup Darwisman. (*)
