Pentas.tv - Sebuah karya ukir Jepara menghiasi Masjid Istiklal di Bosnia sebagai hadiah BJ Habibie. Puluhan tahun kemudian, tiga pengukir kembali datang untuk merestorasinya, ketika identitas pembuat karya aslinya belum terlacak.
Ukiran kayu bisa bertahan melintasi zaman, bahkan menyeberangi benua. Namun, nama orang yang mengerjakannya belum tentu ikut bertahan. Ironi itulah yang mengiringi restorasi ornamen kayu Masjid Istiklal di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, yang melibatkan tiga pengukir asal Jepara, Jawa Tengah.
Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo berangkat ke Bosnia pada Selasa, 13 Oktober 2026. Mereka membawa keterampilan yang diwariskan dari tradisi ukir Jepara untuk merawat ornamen masjid yang menjadi simbol persahabatan Indonesia dan Bosnia.
Bagi Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, pekerjaan tersebut bukan sekadar memperbaiki kayu yang rusak. Restorasi itu juga menjadi cara memperkenalkan keahlian perajin Indonesia ke dunia.
"Restorasi Masjid Istiklal Bosnia merupakan tindak lanjut inisiatif kami dalam memperkuat diplomasi budaya dan memperkenalkan keterampilan ukir Jepara ke dunia," kata Lestari dikutip Minggu, 18 Oktober 2026.
Gagasan restorasi muncul setelah Lestari, yang akrab disapa Rerie, mengunjungi Bosnia pada Februari 2026. Dalam rangkaian upaya mendorong seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, ia menemukan sejumlah ornamen kayu Masjid Istiklal mengalami kerusakan.
Enam pilar berukir dari kayu jati bahkan harus diganti seluruhnya karena kondisinya tidak memungkinkan diperbaiki dengan penambalan. Pekerjaan juga mencakup bagian tangga dan hiasan dinding.
Ada sisi lain yang membuat restorasi ini penting. Ornamen tersebut merupakan bagian dari hadiah Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, kepada Bosnia dan Herzegovina. Karya itu telah menjadi jejak hubungan kedua negara selama puluhan tahun. Namun, identitas pengukir yang membuatnya belum berhasil ditelusuri.
Karya mereka bertahan, tetapi nama mereka seolah tertinggal di belakang.
Padahal, ukiran Jepara bukan sekadar pahatan pada kayu. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang karakter material, ketelitian membentuk pola, dan keterampilan yang tumbuh melalui latihan panjang serta pewarisan antargenerasi.
"Fakta bahwa ukiran Jepara telah hadir di Sarajevo sejak puluhan tahun lalu menunjukkan bahwa keterampilan tradisional kita memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas dari yang sering kita sadari. Ini adalah warisan bangsa yang harus kita rawat bersama," ujar Lestari.
Keberangkatan tiga pengukir tersebut memperlihatkan bahwa tradisi lokal masih dibutuhkan jauh dari tempat asalnya. Diplomasi budaya tidak selalu berlangsung melalui pertemuan resmi atau panggung pertunjukan. Di Masjid Istiklal, hubungan dua negara turut dirawat lewat pekerjaan tangan yang membutuhkan kesabaran dan keahlian.
Namun, merestorasi karya lama saja tidak cukup. Dokumentasi, penelusuran identitas perajin, dan regenerasi pengukir juga penting agar sejarah di balik setiap karya tidak menghilang.
Sebab, warisan budaya bukan hanya tentang apa yang ditinggalkan sebuah generasi, melainkan juga tentang siapa yang menciptakannya. Jangan sampai ukiran Indonesia dikenang di negeri orang, sementara nama para perajinnya lenyap dari ingatan.***
