LIVEPENTAS TV NEWS
📍 Jawa Barat
Loading menu...
LIVEFX MARKET - IDR BASED
Loading FX...
🔴 BREAKING NEWS

Sebelum Jepara Mendunia, Ada Legenda Seniman yang Diterbangkan Raja

📖 4 menit baca✍ Surya Dharma🕒 Sabtu, 17 Oktober 2026 pukul 23.44
Sebelum Jepara Mendunia, Ada Legenda Seniman yang Diterbangkan Raja

Salah satu bentuk ukiran Jepara yang menceritakan sebuah kisah | Credit: Wikipedia

Pentas.tv - Jauh sebelum mebel Jepara memasuki pasar internasional, masyarakat mengenal cerita tentang seorang seniman yang dihukum raja, seorang ahli pahat dari Campa, dan relief batu yang menyimpan jejak kejayaan masa lalu. 

Di antara legenda dan sejarah, seni ukir Jepara menemukan identitasnya.

Sebuah ukiran tidak pernah selesai hanya karena pahat telah berhenti bergerak. Pada lekuk kayu, ada waktu yang dihabiskan untuk mengasah keterampilan. 

Pada motif yang berulang, ada pengetahuan yang diwariskan. Dan pada setiap karya yang keluar dari bengkel, ada jejak panjang tradisi yang membuat Jepara dikenal sebagai Kota Ukir.

Namun, dari mana sebenarnya tradisi itu bermula?

Jawabannya tidak sesederhana menunjuk satu nama atau satu masa. Asal-usul seni ukir Jepara hidup dalam dua dunia sekaligus: legenda yang dituturkan turun-temurun dan peninggalan sejarah yang masih bisa disaksikan hingga sekarang.

Keduanya menawarkan cara berbeda untuk memahami bagaimana sebuah keterampilan tumbuh menjadi identitas suatu daerah.

Seniman, Permaisuri, dan Hukuman di Udara

Dihimpun dari berbagai sumber, salah satu cerita paling terkenal membawa kita ke masa Kerajaan Majapahit. 

Tokohnya bernama Prabangkara, yang juga dikenal dalam cerita rakyat sebagai Joko Sungging. Ia digambarkan sebagai seniman dengan kemampuan melukis dan mengukir yang luar biasa.

Suatu hari, Raja Brawijaya memerintahkannya melukis sang permaisuri tanpa busana. Perintah itu bukan perkara mudah. Prabangkara harus menggambarkan sosok yang dikenalnya, tetapi tidak pernah dilihatnya dalam keadaan tersebut.

Dengan mengandalkan ingatan dan imajinasi, ia menyelesaikan lukisan itu. Hasilnya begitu sempurna hingga konon membuat sang raja terpesona.

Sampai sebuah kejadian kecil mengubah segalanya.

Seekor cecak meninggalkan kotoran pada lukisan. Setelah mengering, noda itu menyerupai tahi lalat pada tubuh sang permaisuri. Raja melihat kemiripan tersebut sebagai bukti bahwa Prabangkara pernah menyaksikan permaisuri tanpa busana. Kekaguman pun berubah menjadi kecurigaan.

Prabangkara dihukum. Menurut legenda, ia diikat pada layang-layang raksasa dan diterbangkan hingga jatuh di kawasan Belakang Gunung, yang kini dikenal sebagai Mulyoharjo, Jepara.

Di tempat itulah, cerita berlanjut, Prabangkara mengajarkan seni mengukir kepada penduduk setempat. Keterampilan tersebut kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.

Ada pula versi lain yang menyebut tokoh itu sebagai Ki Sungging Adi Luwih. Alur ceritanya serupa, tetapi nasib patung dan peralatan pahatnya berbeda. Dalam versi tersebut, patung yang dikerjakan sang seniman terjatuh hingga terbawa ke Bali, sedangkan alat pahatnya jatuh di kawasan Jepara.

Kisah-kisah itu memang memikat. Hukuman raja, layang-layang, dan peralatan pahat yang jatuh di tempat berbeda memberikan penjelasan imajinatif tentang asal-usul tradisi mengukir.

Tetapi legenda bukanlah catatan sejarah yang dapat diterima begitu saja sebagai fakta. Nilainya terletak pada cara masyarakat merawat ingatan dan menjelaskan keistimewaan daerahnya melalui cerita.

Untuk mencari jejak yang lebih konkret, perjalanan harus beralih dari langit dalam legenda menuju batu-batu tua di Mantingan.

Di Mantingan, Batu Menyimpan Cerita yang Berbeda

Kompleks Masjid Astana Mantingan menjadi salah satu tempat penting untuk menelusuri sejarah seni ukir Jepara. Peninggalan ini berkaitan dengan masa Kerajaan Kalinyamat pada abad ke-16, ketika Jepara berkembang sebagai pusat kekuasaan di pesisir utara Jawa.

Di lingkungan kerajaan itulah seni hias memperoleh ruang untuk berkembang. Bangunan keagamaan dan kompleks pemakaman tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah atau peristirahatan terakhir, tetapi juga menjadi ruang bagi keterampilan artistik.

Nama Sungging Badar Duwung kerap dikaitkan dengan perkembangan seni pahat di Jepara. Dalam kisah sejarah setempat, ia disebut sebagai ahli ukir yang berasal dari Campa dan berperan dalam pengerjaan ornamen Masjid Mantingan.

Tokoh ini juga dihubungkan dengan Sultan Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat. Dalam sejumlah narasi sejarah, Sungging Badar Duwung dikenal pula melalui nama Tjie Hwio Gwan.

Menurut kisah yang diwariskan, ia mengajarkan keterampilan memahat kepada penduduk Jepara. Batu yang didatangkan dari Tiongkok disebut digunakan untuk mengerjakan ornamen bangunan. Ketika bahan tersebut tidak mencukupi, batu putih dan kayu menjadi alternatif.

Relief di Mantingan menjadi penting karena memperlihatkan bahwa seni hias di Jepara bukan sekadar cerita yang diwariskan secara lisan. Ada peninggalan material yang dapat diamati, diteliti, dan ditempatkan dalam konteks perkembangan seni pada masa kerajaan.

Motif yang dipahat pada batu memperlihatkan keterampilan mengolah permukaan keras menjadi bentuk dekoratif. Pekerjaan seperti itu menuntut ketelitian dan penguasaan teknik, jauh sebelum peralatan modern dikenal.

Dari sini, sejarah ukiran Jepara tampak lebih luas daripada legenda seorang seniman. Tradisi tersebut juga terbentuk melalui hubungan antara penguasa, ahli pahat, lingkungan keagamaan, dan masyarakat yang mempelajari keterampilan itu.

Dari Dinding Masjid ke Rumah-Rumah Jepara

Seni ukir tidak tumbuh dalam ruang kosong. Keterampilan yang digunakan untuk memperindah bangunan dapat berkembang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari ketika pengetahuan tersebut menyebar ke masyarakat.

Di Jepara, tradisi mengukir kemudian lekat dengan arsitektur rumah, pintu, perabot, dan berbagai benda berbahan kayu. Motif yang semula menjadi bagian dari ornamen bangunan menemukan bentuk baru sesuai kebutuhan pemiliknya.

Kayu menawarkan kemungkinan yang berbeda dari batu. Bahan ini dapat dibentuk menjadi perabot yang memiliki fungsi sekaligus nilai estetika. Pahat tidak hanya menghasilkan gambar pada permukaan, tetapi juga membentuk kedalaman, volume, dan karakter sebuah benda.

Perjalanan panjang itulah yang kelak mengantarkan Jepara menjadi pusat industri mebel ukir. Namun, perubahan tersebut tidak hanya ditentukan oleh keindahan karya. Keterampilan harus bertemu dengan permintaan pasar, sementara para perajin perlu menemukan cara agar pekerjaan mereka dapat menopang kehidupan.

Sebelum nama Jepara dikenal pembeli dari berbagai negara, ada perjalanan lain yang tidak kalah penting: bagaimana seni ukir keluar dari lingkaran tradisi lokal dan memperoleh nilai ekonomi.

Salah satu tokoh yang memberi perhatian pada persoalan itu adalah Raden Ajeng Kartini.***

Bersambung ke Bagian 2: Kartini, Nasib Perajin, dan Perjalanan Ukiran Jepara Menembus Dunia.

Disclaimer

Seluruh informasi yang dipublikasikan di pentas.tv disediakan hanya untuk tujuan informasi umum. Redaksi berupaya menyajikan informasi yang akurat, terkini, dan dapat dipertanggungjawabkan, namun tidak memberikan jaminan apa pun, baik secara tersurat maupun tersirat, mengenai kelengkapan, keakuratan, keandalan, atau kesesuaian informasi tersebut.

Segala tindakan yang Anda lakukan berdasarkan informasi di situs ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab Anda sendiri. pentas.tv tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian atau kerusakan yang timbul akibat penggunaan informasi dari situs ini.

Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab/koreksi, silakan menghubungi redaksi melalui halaman resmi pentas.tv.