PENTAS.TV- BANDUNG, — Kemampuan memasak tidak lagi hanya dipandang sebagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah berkembangnya peluang bisnis kuliner dan industri hospitality, kemampuan tersebut dapat menjadi modal untuk membangun usaha maupun membuka peluang karier profesional.
Hal itu dirasakan Fatimah Azahra, peserta cooking class di LPT Panghegar. Meski memiliki latar belakang pendidikan teknik elektro, Fatimah memilih mengikuti pelatihan memasak karena dorongan keluarga sekaligus untuk mempersiapkan rencana pengembangan usaha katering, Minggu (30/8/2026).
Fatimah mengatakan, pelatihan memasak secara terarah membantunya memahami berbagai materi yang sebelumnya belum dikuasai. Menurutnya, proses belajar menjadi lebih mudah karena materi disampaikan langsung oleh chef yang memiliki pengalaman di dunia kuliner.
"Informasinya lengkap dan pengajarannya juga langsung dengan chef," ujar Fatimah.
Setelah mengikuti pelatihan tersebut, Fatimah mulai mempertimbangkan untuk melanjutkan pembelajaran ke tingkat yang lebih mahir. Rencana itu berkaitan dengan keinginan keluarganya untuk mengembangkan usaha katering.
Pengalaman serupa juga dirasakan Raden Mustofa. Pria asal Bandung tersebut sebelumnya berkecimpung di bidang event organizer, tetapi kini mulai mempelajari keterampilan memasak karena memiliki ketertarikan terhadap dunia kuliner sekaligus rencana membuka usaha.
Raden juga tengah mempersiapkan kepindahannya ke Bali. Kondisi tersebut membuat kemampuan dasar memasak menjadi salah satu bekal yang ingin dimilikinya.
Menurut Raden, seseorang yang mengikuti pelatihan memasak tidak harus langsung menguasai seluruh aspek dunia kuliner. Pemahaman terhadap dasar dan teknik memasak dinilai lebih penting sebagai fondasi untuk kemudian mengembangkan kemampuan secara mandiri.
Ia juga mengapresiasi metode pembelajaran serta cara chef menyampaikan materi selama pelatihan.
Sementara itu, Chef Boni, Ketua Indonesia Chef Association (ICA) Jawa Barat periode 2022-2027, mengatakan kemampuan teknis merupakan salah satu fondasi penting bagi seseorang yang ingin memasuki industri hospitality.
Namun, kemampuan memasak saja belum cukup. Dalam penilaian kompetensi memasak, seseorang tidak hanya dilihat dari makanan yang dihasilkan. Proses persiapan, pengolahan, penyajian, hingga aspek kebersihan juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.
Selain kemampuan teknis, Chef Boni menekankan pentingnya mental dan attitude. Menurutnya, pengetahuan memasak yang baik dapat kehilangan nilainya apabila tidak dibarengi konsistensi dan sikap profesional.
"Sejauh apa pun pengetahuannya tentang memasak, kalau mentalnya tidak konsisten, itu bisa menghancurkan semuanya. Attitude juga penting ketika mereka masuk industri," kata Chef Boni.
Chef Boni menjelaskan, karier di dunia kuliner memiliki jenjang kompetensi yang berkembang secara bertahap.
Jenjang tersebut mulai dari cook helper, cook, demi chef, Chef de Partie (CDP), junior sous chef, sous chef, executive sous chef, hingga executive chef.
Setiap tingkatan memiliki tuntutan kemampuan dan tanggung jawab yang berbeda. Karena itu, peningkatan kompetensi menjadi bagian penting bagi seseorang yang ingin membangun karier di industri kuliner dan hospitality.
Menurut Chef Boni, sertifikasi kompetensi dapat menjadi salah satu cara untuk memberikan pengakuan terhadap kemampuan seseorang. Pengalaman kerja di lapangan juga perlu disertai bukti kompetensi yang dapat menunjukkan tingkat kemampuan dan posisi profesional seseorang.
Bagi masyarakat yang ingin menekuni dunia kuliner, pembelajaran dasar menjadi langkah awal yang penting. Namun, proses belajar tidak berhenti ketika seseorang sudah mampu menghasilkan makanan.
Kemampuan teknis perlu terus diasah. Di sisi lain, mental, kedisiplinan, kebersihan, dan sikap profesional perlu dibangun secara bersamaan.
Kisah Fatimah dan Raden menunjukkan bahwa alasan seseorang mempelajari keterampilan memasak dapat berbeda-beda. Fatimah memulainya karena dorongan keluarga dan persiapan mengembangkan usaha katering, sementara Raden melihat kemampuan memasak sebagai bekal sebelum membuka usaha sekaligus menghadapi rencana kepindahan ke Bali.
Pada akhirnya, keterampilan memasak tidak hanya menjadi kemampuan praktis. Jika terus dikembangkan dengan pengetahuan, pengalaman, disiplin, dan sikap profesional, skill tersebut dapat menjadi bekal untuk membangun usaha maupun mengembangkan karier di industri kuliner.(GIH/*)
