PENTAS.TV - Banyak aspek dan faktor yang bisa menjadi penunjang pergerakan positif perekonomian nasional. Antara lain, pemahaman dan pemanfaatan produk-produk sektor keuangan.
Karena itu, sebagai otoritas pengawas industri keuangan nasional, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) punya target besar tentang rasio inklusi keuangan.
Yakni, OJK mencanangkan rasio inklusi keuangan 98 persen saat Indonesia Emas atau pada 2045.
"Berdasarkan RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional), kami menargetkan rasio inklusi keuangan pada 2045 yakni 98 persen," tandas Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK, pada Hari Menabung Nasional (HMN) 2026 belum lama ini.
Kiki, sapaan akrabnya, meneruskan, demi tercapainya target rasio inklusi dan literasi keuangan 2045, pihaknya menyasar kalangan pelajar.
Alasannya, jelas dia, saat ini, rasio inklusi keuangan kalangan pelajar dan mahasiswa masih lebih rendah daripada rata-rata nasional.
Friderica Widyasari Dewi mengatakan, berpatokan pada data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun lalu, persentase kalangan pelajar dan mahasiswa yakni 31 persen total penduduk Indonesia, yang jumlahnya sekitar 287,2 juta jiwa.
Rasio literasi keuangan kalangan pelajar berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, pada posisi 62,72 persen, lebih rendah daripada skala nasional, yakni 69,57 persen.
Berbeda dengan inklusi keuangan, yang persentasenya lebih Akbar daripada literasi keuangan. Apabila mengacu pada SNLIK 2026, beber dia, persentase rasio inklusi keuangan yakni 92,76 persen.
Walau demikian , aku Friderica Widyasari Dewi, perbandingannya dengan rasio rata-rata inklusi keuangan pelajar dan mahasiswa memang masih lebih rendah, yakni 93,61 persen. (*)
