PENTAS.TV-BANDUNG, — Kota Bandung menjadi saksi pertemuan dua nama besar dalam industri kreatif Indonesia, Pidi Baiq dan Rudi Soedjarwo, melalui film “Dan Bandung”. Film yang diadaptasi dari novel karya Pidi Baiq ini resmi diputar untuk publik Bandung menjelang penayangan serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 20 Agustus 2026.
Pemutaran di Bandung terasa istimewa karena film tersebut membawa nama dan suasana kota yang menjadi bagian penting dalam cerita. Produser film, Titin Suryani, mengatakan antusiasme masyarakat terlihat dari 14 kali pemutaran yang digelar pada hari tersebut, dengan sebagian besar studio terisi penuh.
“Setiap kali saya menonton film ini, saya selalu ikut terbawa perasaan hingga menitikkan air mata di bagian akhir,” ujar Titin.
Executive Producer Beby Kunady juga menilai pemutaran bersama warga Bandung menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan pemutaran di kota lain. Ia berharap film produksi Verona Films tersebut tidak hanya menghibur, tetapi mampu menjangkau penonton yang lebih luas di berbagai daerah.
“Dan Bandung” tidak hanya menawarkan cerita romansa. Film ini turut mengangkat persoalan keluarga, persahabatan, perbedaan latar sosial, hingga pencarian jati diri anak muda.
Cerita berpusat pada Basil dan Elma, yang diperankan Samo Rafael dan Shanna Shannon. Keduanya berasal dari latar kehidupan berbeda sehingga hubungan mereka menghadapi berbagai persoalan. Keisya Levronka dan Paul Aro turut memperkuat jajaran pemeran.
Adaptasi novel ke layar lebar ini berjalan relatif cepat setelah Pidi Baiq mempercayakan kursi sutradara kepada Rudi Soedjarwo.
Pidi mengaku terkejut ketika melihat hasil akhir film. Cerita yang selama ini hanya hadir dalam bentuk tulisan ternyata dapat berkembang menjadi visual dengan pengalaman emosional yang bahkan melampaui bayangannya.
Salah satu keputusan kreatif Rudi adalah memasukkan lagu-lagu karya Pidi Baiq sebagai bagian dari atmosfer film.
Pidi sempat khawatir penggunaan musik tersebut akan membuat cerita terasa terlalu manis. Namun, Rudi melihatnya sebagai cara untuk memberikan tekstur emosi yang lebih kompleks sekaligus membuat cerita terasa lebih manusiawi.
Menurut Titin, kekuatan novel yang menjadi sumber cerita film ini tidak terlepas dari pengalaman hidup pribadi Pidi Baiq, termasuk kisah cinta dan persahabatan yang pernah dialaminya ketika merantau.
Dalam film tersebut, Bandung tidak hanya berfungsi sebagai latar tempat. Kota ini menjadi bagian dari perjalanan emosional para karakter.
Rudi melihat karakter Bandung sebagai salah satu daya tarik utama karena kota tersebut mampu menjadi ruang penceritaan yang ikut membentuk suasana dan perjalanan para tokoh.
Elma, misalnya, digambarkan tumbuh dalam keluarga dengan aturan ketat. Pertemuannya dengan Basil kemudian membuka perspektif baru tentang kebebasan, pilihan hidup, dan keberanian menentukan masa depan.
Konflik film pun tidak berhenti pada pertanyaan apakah Basil dan Elma akan bersatu. Ceritanya berkembang menjadi pergulatan pribadi dan keluarga yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Bagi Rudi Soedjarwo, menggarap film romansa setelah perjalanan panjang di industri perfilman memberikan perspektif baru tentang cinta.
Menurutnya, cinta merupakan tema yang tidak pernah kehilangan relevansi, meski cara setiap generasi memaknainya terus berubah.
Kehidupan Pidi Baiq menjadi sumber energi kreatif utama film ini. Karakter Basil dan Elma serta dialog-dialognya tetap membawa kekhasan gaya bertutur Pidi Baiq.
Pada akhirnya, “Dan Bandung” bukan semata film tentang cinta. Film ini menjadi pertemuan antara pengalaman hidup, sastra, musik, dan sinema, dengan Bandung sebagai benang merah yang mengikat perjalanan emosional para tokohnya.
