PENTAS.TV-BANDUNG, – Industri pariwisata kini menghadapi perubahan yang semakin cepat. Perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan wisatawan hingga tuntutan terhadap pengalaman wisata yang lebih personal membuat perguruan tinggi pariwisata dituntut tidak sekadar menghasilkan lulusan yang siap bekerja, tetapi juga sumber daya manusia yang kompeten, kreatif dan mampu beradaptasi.
Ketua Komisi X DPR RI Ferdiansyah mengatakan keberadaan perguruan tinggi pariwisata memiliki peran penting dalam menjawab kebutuhan sumber daya manusia di sektor pariwisata. Namun, pendidikan pariwisata perlu disesuaikan dengan karakter, potensi daerah serta arah pengembangan pariwisata Indonesia.
Menurut Ferdiansyah, keberadaan perguruan tinggi pariwisata tidak harus tersebar di setiap provinsi. Hal yang lebih penting adalah setiap institusi memiliki kekhususan dan kompetensi yang jelas sehingga dapat mendukung pengembangan destinasi wisata maupun kebutuhan industri pariwisata.
“Menjadi penting keberadaan Poltek Pariwisata di Indonesia dan yang paling penting juga tidak mesti harus dilakukan di setiap provinsi,” kata Ferdiansyah dalam wawancara yang tercantum dalam materi, Jumat (18/9/2026).
Ia juga menilai lulusan pendidikan pariwisata perlu memiliki keberanian untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Lulusan tidak harus seluruhnya berorientasi menjadi pekerja di industri, tetapi juga dapat mengembangkan usaha berbasis potensi pariwisata yang ada di daerah masing-masing.
Ferdiansyah mencontohkan berbagai komponen pendukung pariwisata yang sebenarnya sudah tersedia di daerah, mulai dari hotel, restoran, destinasi hingga komunitas. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikemas menjadi pengalaman wisata yang menarik dan memiliki nilai bagi wisatawan.
Kekayaan budaya Indonesia juga dinilai dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan produk pariwisata. Permainan tradisional, tari, dongeng hingga cerita mengenai kekayaan alam dan kehidupan masyarakat dapat dikembangkan menjadi atraksi yang memberikan pengalaman berbeda kepada wisatawan.
Di tengah perkembangan teknologi, pendidikan pariwisata juga dituntut mampu mengikuti perubahan tanpa menghilangkan unsur manusia. Teknologi dapat mengubah jenis pekerjaan di sektor pariwisata, tetapi tidak serta-merta menggantikan rasa, kreativitas, pemikiran dan karya budaya manusia.
Karena itu, Ferdiansyah menekankan pentingnya membangun karakter pelayanan yang memiliki kekhasan Indonesia.
“Pendidikan yang dilakukan Poltekpar adalah pendidikan perguruan tinggi di bidang kepariwisataan rasa Indonesia,” ujarnya.
Pandangan mengenai pentingnya karakter juga disampaikan Guru Besar Poltekpar Bali, Prof. Irene Hanna H. Sihombing. Menurut Irene, pendidikan pariwisata tidak hanya berkaitan dengan penguasaan kompetensi teknis, tetapi juga pembentukan integritas, etika, tanggung jawab dan kemampuan berkomunikasi.
Ia mencontohkan hal sederhana dalam komunikasi akademik, seperti cara mahasiswa menghubungi dosen melalui surat elektronik. Menurut Irene, kemampuan berkomunikasi merupakan bagian penting dari pembentukan profesionalisme karena industri pariwisata pada dasarnya dibangun melalui interaksi antarmanusia.
Selain karakter dan komunikasi, kreativitas menjadi kemampuan yang tidak kalah penting bagi mahasiswa pariwisata. Mereka perlu mampu menciptakan pengalaman serta inovasi baru agar destinasi tidak hanya menawarkan produk wisata yang sama dari waktu ke waktu.
Tantangan tersebut semakin besar seiring transformasi teknologi di sektor pariwisata. Perkembangan digital tourism, artificial intelligence atau AI, big data hingga smart hospitality telah mengubah cara industri pariwisata menjalankan layanan dan berinteraksi dengan wisatawan.
Pada saat yang sama, industri pariwisata juga menghadapi tuntutan keberlanjutan serta dinamika global yang terus berubah.
“Pendidikan tinggi pariwisata harus mampu bergerak cepat mengikuti kebutuhan sektor yang dilayani,” ujar Irene.
Perubahan tersebut membuat pembelajaran di perguruan tinggi pariwisata perlu memiliki keterhubungan yang kuat dengan dunia industri. Pengalaman praktik, pembelajaran berbasis pekerjaan serta keberadaan fasilitas praktik yang mengikuti standar industri menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.
Dengan model tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep di ruang kelas, tetapi juga berhadapan dengan situasi kerja yang sesungguhnya. Lulusan diharapkan memiliki kemampuan teknis, karakter serta kemampuan beradaptasi ketika memasuki industri pariwisata.
Pada akhirnya, tantangan pendidikan pariwisata bukan sekadar menghasilkan lulusan dalam jumlah tertentu. Persoalan utamanya adalah bagaimana pendidikan mampu membentuk talenta yang memahami industri, mengenali potensi daerah, mampu berkomunikasi, kreatif menghadapi perubahan teknologi serta memiliki kemauan untuk terus belajar setelah meninggalkan bangku kuliah.
Sektor pariwisata yang terus bergerak membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya siap mengikuti perubahan, tetapi juga mampu menciptakan pengalaman dan peluang baru dari perubahan tersebut.(GIH/*)
