PENTAS.TV - Idealnya, setiap korporasi senantiasa menorehkan performa dan kinerja apik dan solid pada setiap periodenya. Namun, tidak sedikit pula yang kinerjanya kurang sesuai ekspektasi, misalnya perolehan laba yang terkontraksi.
Kondisi itu yang kini dialami korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor transportasi publik, PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero).
Dalam laman resminya, PT KAI (Persero) Group mengalami perkembangan yang kurang positif.
Perolehan laba sebelum pajak pada semester I 2026 bernilai Rp842,69 miliar.
Perbandingannya dengan laba sebelum pajak semester pertama 2025, yang nominalnya Rp1,86 triliun, susut drastis.
Begitu pula dengan perolehan laba tahun berjalan . Pada semester awal 2026, perolehan laba tahun berjalan PT KAI (Persero) bernilai Rp314,03 miliar.
Sedangkan semester I 2025, nominal laba tahun berjalan korporasi yang dahulu bernama Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) ini yaitu Rp1,18 triliun.
Walau begitu, PT KAI (Persero) Group masih bisa tersenyum .Pasalnya, berdasarkan pelaporan keuangan unaudited, korporasi pelat merah ini membukukan Income Rp17,96 triliun, lebih masih 6,61 persen daripada penerimaan periode sama 2025, yang angkanya Rp16,85 triliun
Laba bruto pun bergerak positif. Nilainya Rp6,79 triliun, bertambah 18,81 persen lebih banyak daripada semester pertama 2025, yang nominalnya Rp5,72 triliun.
Selain itu, laba usaha PT KAI (Persero) Group juga berkembang biak 25,79 persen secara tahunan, menjadi Rp4,66 triliun. Akhir Juni 2025, nominalnya Rp3,71 triliun .
Berkembang biaknya perolehan income, laba bruto dan laba usaha tersebut, di antaranya, berkat masifnya volume penumpang.
"Selama semester pertama 2026, kami mengakomodir dan melayani mobilitas sebanyak 258.993.359 orang penumpang, lebih banyak 7,55 persen daripada enam bulan awal 2025, yang jumlahnya 240.805.920 orang penumpang," tandas Anne Purba, Vice President Public Relations & Corporate Communication PT KAI (Persero), dalam keterangannya.
Volume penumpang paling membludak selama sester awal 2026 itu, lanjutnya, yaitu passenger train yang berkonsep Public Service Obligation (PSO) alias bersubsidi , perintis, dan penugasan pemerintah.
"Junlahnya 235.137.908 orang atau sekitar 90,79 persen total penumpang PT KAI (Persero) Group," lanjut Anne Purba.
Pada sisi logistic train, Anne Purba menambahkan, pada Januari-Juni 2026, pihaknya , yang pada Juni 2026 memiliki aset bernilai total Rp104,79 triliun, melayani angkutan logistik bervolume 32.498.043 ton. Komoditasnya, ujar dia, beragam.
Komoditas terbanyak, imbuh mantan Vice President Corporate Secretary PT KAI (Persero) Commuter Line Indonesia (KCI) ini, yakni batu bara. Bobonya, sebut dia, yaitu 26.534.095 ton.
Sisanya, sahut Anne Purba, yaitu berbobot 5.963.948 ton, berupa komoditas non-batu bara, seperti peti kemas dan lainnya
Mengenai susut nya perolehan laba sebelum pajak, Anne Purba berdalih, kondisi itu dipicu kerugian bersih korporasi asosiasi dan joint venture company, yang konon, merupakan pemilik saham mayoritas PT Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) alias Whoosh
Pada semester pertama 2025, nilai kerugiannya Rp948,20 miliar. Namun, pada semester pertama tahun 2026, nominal kerugiannya melejit, menjadi Rp3,00 triliun. (*)
