PENTAS.TV-BANDUNG, - Kemunculan monyet ekor panjang yang berkeliaran hingga masuk ke pekarangan dan rumah warga di sejumlah wilayah perkotaan Bandung kembali menjadi perhatian. Kehadiran satwa liar tersebut tidak jarang menimbulkan keresahan, terutama ketika kawanan monyet mulai mendekati lingkungan permukiman.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan kondisi musim kemarau. Namun, benarkah cuaca kering menjadi penyebab utama monyet ekor panjang turun dari habitat alaminya dan memasuki kawasan permukiman?
Secara ekologis, musim kemarau memang dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong satwa mencari wilayah baru. Akan tetapi, kondisi tersebut bukan satu-satunya penyebab.
Ada sejumlah faktor lain yang dapat membuat monyet ekor panjang keluar dari habitatnya dan semakin sering berinteraksi dengan manusia.
Salah satu faktor yang dapat mendorong pergerakan monyet adalah berkurangnya ketersediaan pakan alami.
Ketika kemarau berlangsung, sumber air dan tumbuhan yang menjadi bagian dari makanan satwa dapat mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat monyet harus menjelajah lebih jauh untuk mendapatkan makanan dan memenuhi kebutuhan energinya.
Kawasan permukiman kemudian dapat menjadi salah satu lokasi yang menarik karena menyediakan sumber makanan yang relatif mudah ditemukan.
Selain faktor musim, perubahan penggunaan lahan juga berpengaruh terhadap pola pergerakan satwa.
Penyempitan ruang hidup akibat pembangunan permukiman, infrastruktur maupun kawasan pariwisata membuat habitat alami monyet semakin terfragmentasi.
Akibatnya, batas antara kawasan habitat satwa dengan lingkungan manusia menjadi semakin dekat. Koridor jelajah yang sebelumnya digunakan untuk berpindah antarkawasan juga dapat terputus.
Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya perjumpaan antara monyet dan masyarakat.
Faktor lain yang juga dapat memengaruhi pergerakan monyet adalah dinamika sosial dalam kelompok.
Monyet ekor panjang hidup secara berkelompok dan memiliki struktur sosial tertentu. Persaingan untuk mendapatkan ruang, makanan, maupun posisi dalam kelompok dapat membuat sebagian individu atau kelompok berpindah mencari wilayah baru.
Wilayah baru tersebut tidak selalu berada jauh dari manusia. Dalam kondisi tertentu, kawasan di sekitar permukiman dapat menjadi bagian dari wilayah jelajah mereka.
Sifat adaptif monyet ekor panjang juga membuat satwa ini mampu memanfaatkan sumber makanan yang tersedia di lingkungan manusia.
Sisa makanan rumah tangga, buah-buahan, maupun tempat sampah terbuka dapat menjadi sumber makanan yang mudah ditemukan.
Jika monyet berulang kali memperoleh makanan dari lingkungan permukiman, satwa tersebut dapat belajar bahwa kawasan manusia menyediakan sumber makanan yang mudah diakses.
Karena itu, kebiasaan warga memberikan makanan kepada monyet justru berpotensi membuat satwa semakin terbiasa mendekati manusia.
Kemunculan monyet di kawasan permukiman juga terkadang dikaitkan dengan berbagai narasi di media sosial, termasuk anggapan bahwa kedatangan satwa liar merupakan pertanda akan terjadinya bencana alam besar.
Masyarakat sebaiknya tidak langsung mempercayai informasi semacam itu apabila tidak disertai dasar ilmiah yang jelas.
Perubahan perilaku satwa lebih tepat dipahami melalui faktor ekologis, seperti ketersediaan makanan, perubahan habitat, kondisi lingkungan, serta interaksi dengan manusia.
Jika menemukan monyet ekor panjang memasuki lingkungan perumahan, warga sebaiknya tidak mencoba mendekati atau memberikan makanan.
Sumber makanan yang terbuka juga perlu diamankan agar tidak semakin menarik perhatian satwa.
Apabila keberadaan monyet sudah mengganggu atau membahayakan keselamatan warga, masyarakat dapat melaporkannya kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat atau meminta bantuan Dinas Pemadam Kebakaran setempat untuk penanganan dan evakuasi secara aman.
Pada akhirnya, kemunculan monyet ekor panjang di kawasan permukiman tidak semata-mata dapat disebabkan oleh musim kemarau. Fenomena tersebut merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor, mulai dari berkurangnya sumber makanan, penyempitan habitat, dinamika kelompok hingga tersedianya sumber makanan dari aktivitas manusia.
Dengan tidak memberikan makanan dan menjaga lingkungan tetap aman dari sumber pangan terbuka, masyarakat dapat membantu mengurangi ketergantungan satwa terhadap kawasan permukiman.(GIH/*)
