LIVEPENTAS TV NEWS
📍 Jawa Barat
Loading menu...
LIVEFX MARKET - IDR BASED
Loading FX...
đź”´ BREAKING NEWS

Jurnalis Hilang di Laut, Doa Mengalir dari Masjid Agung Bandung

📖 3 menit baca✍ Singgih Jatmiko🕒 Kamis, 17 September 2026 pukul 09.15
Jurnalis Hilang di Laut, Doa Mengalir dari Masjid Agung Bandung

Doa bersama di Masjid Agung Bandung untuk para jurnalis yang belum ditemukan setelah mengalami musibah di laut, Rabu 16 September 2026. Doa juga dipanjatkan bagi keluarga dan tim pencarian yang masih menanti kepastian.

PENTAS.TV, BANDUNG — Doa untuk para jurnalis yang hingga kini belum ditemukan setelah menjalankan tugas liputan di tengah musibah di laut mengalir dari Masjid Agung Bandung, Rabu, 16 September 2026.

Lebih dari 200 jemaah mengikuti doa bersama setelah salat Zuhur. Selain mendoakan para jurnalis yang belum ditemukan, doa juga ditujukan bagi keluarga yang masih menunggu kabar serta tim pencarian yang tengah berupaya menemukan keberadaan mereka.

Doa tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus penghormatan terhadap para jurnalis yang menjalankan tugas di tengah situasi berisiko. Profesi jurnalistik tidak hanya berkaitan dengan penyampaian informasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya masyarakat mendapatkan pengetahuan mengenai sebuah peristiwa.

Ulama K.H. Shodiq Nawawi dalam doanya meminta agar para jurnalis yang belum ditemukan mendapatkan jalan terbaik dari Allah SWT. Ia juga mendoakan agar keluarga mereka diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi situasi yang masih belum memiliki kepastian.

K.H. Shodiq menilai para jurnalis tersebut sedang menjalankan tugas ketika musibah terjadi. Karena itu, ia berharap mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

“Yakin, para jurnalis itu termasuk syuhada karena mereka sedang melaksanakan tugas liputan untuk menyempurnakan pengetahuan dan pengalaman,” ujar K.H. Shodiq.

Ia juga mendoakan agar amal para jurnalis tersebut diterima Allah SWT. Pernyataan itu disampaikan sebagai bentuk penghormatan sekaligus penguatan moral bagi keluarga yang masih menunggu kabar.

Ketua Nazir Masjid Agung Bandung, Roedy Wiranatakusumah, turut menyerukan agar doa bagi para jurnalis yang belum ditemukan terus diperkuat.

Menurut Roedy, doa bersama tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian Masjid Agung Bandung terhadap keluarga korban dan tim yang masih melakukan pencarian.

Doa bersama dilaksanakan setelah salat Zuhur dan diikuti lebih dari 200 jemaah. Dari Masjid Agung Bandung, doa dipanjatkan agar keluarga yang menunggu diberikan kekuatan serta tim pencarian memperoleh kemudahan dalam menjalankan tugas.

“Dengan kekuatan doa ini, salah satu bentuk kepedulian dari keberadaan kami selaku Nazir Masjid Agung Bandung,” kata Roedy.

Suasana doa tersebut juga mendapat perhatian Rob Hammink, jurnalis asal Belanda yang kini menulis novel Jodoh. Ia turut menyampaikan doa bagi para jurnalis yang mengalami musibah di laut.

Bagi Hammink, penghormatan terhadap jurnalis melalui doa tersebut memiliki makna yang kuat. Meski tidak memahami teks doa yang dibacakan, ia mengaku dapat merasakan pesan yang disampaikan melalui suasana di masjid.

Menurut Hammink, jurnalis kerap harus mendatangi tempat-tempat berbahaya untuk menjalankan tugas dan memberikan informasi kepada masyarakat.

Pengalamannya selama sekitar 30 tahun menjadi wartawan membuat Hammink memahami risiko yang dapat dihadapi seorang jurnalis ketika menjalankan tugas di lapangan.

Hammink pernah menjalankan tugas jurnalistik di sejumlah wilayah yang menghadapi situasi sulit, termasuk Afrika, Kongo, Irak, dan Kashmir.

“Saya sangat mengerti apa artinya itu, karena saya sendiri 30 tahun menjadi wartawan untuk Telegraph,” ujarnya.

Kedatangan Hammink ke Bandung berkaitan dengan perjalanan personal sekaligus profesional. Ia membawa warisan buku harian ayahnya yang pernah tinggal di Padang pada dekade 1940-an.

Catatan tersebut kemudian menjadi inspirasi novel Jodoh, yang kini direncanakan untuk diangkat menjadi film.

Selama berada di Bandung, Hammink juga mengajar di UPI mengenai pembuatan film, penulisan skenario, dan sejarah kolonial.

Di tengah agenda tersebut, perjumpaannya dengan suasana doa untuk para jurnalis yang mengalami musibah menjadi pengalaman tersendiri.

Ia melihat bagaimana profesi jurnalistik mendapatkan penghormatan dari komunitas yang hadir di Masjid Agung Bandung.

Doa yang dipanjatkan tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang pencarian terhadap mereka yang belum ditemukan. Doa juga menjadi pengingat bahwa di balik setiap berita terdapat manusia yang menjalankan tugas, keluarga yang menunggu, serta risiko yang terkadang harus dihadapi seorang jurnalis ketika berada di lapangan.

Di tengah ketidakpastian, doa menjadi salah satu bentuk dukungan yang dapat diberikan kepada keluarga dan seluruh pihak yang masih menanti kepastian mengenai keberadaan para jurnalis tersebut.(GIH/*)

Disclaimer

Seluruh informasi yang dipublikasikan di pentas.tv disediakan hanya untuk tujuan informasi umum. Redaksi berupaya menyajikan informasi yang akurat, terkini, dan dapat dipertanggungjawabkan, namun tidak memberikan jaminan apa pun, baik secara tersurat maupun tersirat, mengenai kelengkapan, keakuratan, keandalan, atau kesesuaian informasi tersebut.

Segala tindakan yang Anda lakukan berdasarkan informasi di situs ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab Anda sendiri. pentas.tv tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian atau kerusakan yang timbul akibat penggunaan informasi dari situs ini.

Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab/koreksi, silakan menghubungi redaksi melalui halaman resmi pentas.tv.