PENTAS.TV - Beberapa waktu lalu, tepatnya 11 Juni 2026, PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) menampilkan wajah dan peran baru Cikuray (Garut-Bandung-Pasaesenen pp) sebagai Kereta Ekonomi Rakyat (KER) dan Kereta Khusus Petani-Pedagang (KKPP).
Perubahan itu merupakan inovasi korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dahulu bernama Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) tersebut untuk melayani dan mengakomodir kebutuhan transportasi masyarakat secara lebih prima serta optimal.
Seperti apa perkembangannya?
Kuswardoyo, Manager Hubungan Masyarakat (Humas) PT KAI (Persero) Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, mengklaim bahwa kehadiran Cikuray sebagai KER dan KPP direspon publik secara positif.
Hal itu, lanjut Kus, sapaan akrabnya, tercermin pada perkembangan volume penumpangnya.
"Selama 10 hari aktivasi Cikuray sebagai KER dan KKPP, volume penumpang yang terlayani dan terakomodir kebutuhan transportasinya berjumlah 15.866 orang," tandas Kus.
Secara rinci, mantan Manager Humas PT KAI (Persero) Daop 7 Madiun itu menjelaskan, sebanyak 15.866 ribu orang penumpang tersebut terdiri atas 8.756 orang yang menggunakan Cikuray keberangkatan dari Garut ke Pasarsenen.
Sebanyak 7.110 orang penumpang lainnya, lanjut mantan Manager Public Relations Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) iru, adalah mereka yang berangkat dari Pasarsenen ke Garut.
Kus mengatakan, tampilnya wajah dan peran baru Cikuray sebagai KER dan KKPP membuktikan betapa kuat komitmen jajarannya untuk senantiasa menyempurnakan pelayanannya kepada masyarakat sehingga kebutuhan transportasi yang inklusif terakomodir secara lebih optimal.
Kus menyatakan, desain Cikuray memang merupakan fasilitas transportasi publik yang juga secara tidak langsung, turut menggeliatkan perekonomian.
Pasalnya, kilah Kus, peran baru Cikuray itu tidak hanya sebagai fasilitas transportasi yang nyaman, tetapi juga sebagai penopang mobilitas dan aktivitas, khususnya kalangan petani dan pedagang, termasuk para pelaku Usaha Mikro-Kecil-Menengah (UMKM). (win)
