PENTAS.TV - Setiap tahunnya, ada beberapa momen atau yang berpotensi menyebabkan masyarakat sulit memperoleh bahan pangan karena harganya yang ugal-ugalan. Di antaranya, kemarau.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi Juli-September 2026 merupakan puncak musim kemarau.
Apabila benar-benar terjadi,, kemarau bisa menyebabkan terjadinya kekeringan. Efeknya, proses pertanian terkendala.
Dampak lebih luasnya, berpengaruh pada hasil panen sehingga harga jual beras pada level konsumen menjadi mahal .
Karenanya, demi mengantisipasi kondisi itu, sebenarnya, pemerintah melalui seluruh lembaga dan instansinya, termasuk Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), menyusun dan mengimplementasikan berbagai program serta strategi.
Di antaranya, melakukan penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras. Tahun ini, Perum Bulog mengemban tugas berupa penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras dalam volume masif, yakni 4 juta ton.
Berkat upaya keras, hasilnya, pemerintah memiliki stok beras nasional alias Cadangan Beras Pemerintah (CBP) bervolume masif.
Hingga kini, stok CBP yang dikelola Perum Bulog bervolume 5,2 juta ton.
Mengacu pada posisi CBP terkini, Badan Pangan Nasional (Bapanas) optimistis bahwa kebutuhan pangan masyarakat, khususnya komoditas beras, bisa terakomodir, selama musim kemarau.
"Stok beras nasional berlimpah, Volumenya, hingga 22 Juli ,2026, sekitar 5,2 juta ton. In Syaa Allah, aman dan bisa mengakomodir kebutuhan pangan masyarakat," tandas Andi Amran Sulaeman, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian (Mentan), dalam keterangannya.
Andi Amran Sulaeman menegaskan, seyogianya, berlimpahnya volume CBP yang pengelolaannya oleh Perum Bulog tersebut tidak membuat masyarakat mengkhawatirkan kemungkinan mengalami kesulitan mengakses atau memperoleh beras.
Andi Amran Sulaeman menyatakan, stok CBP selama 2026 jauh lebih masif daripada musim kemarau beberapa tahun sebelumnya.
Dia membandingkannya dengan kondisi beberapa tahun silam. Tiga tahun lalu, ungkap dia, ketika terjadi El Nino, dan puncak kemarau pada Maret 2023, stok CBP bervolume 1,52 juta ton.
Biasanya, sambung dia, volume kebutuhan pangan selama kemarau tergolong masif, yakni sekitar 3 juta ton.
Artinya, jelas dia, seandainya pada puncak musim kemarau 2026, estimasi kebutuhan beras yakni ,3 juta ton, volume CBP masih surplus sebanyak 2 juta ton lebih.
Agar kebutuhan pangan terakomodir, Andi Amran Sulaeman mengemukakan, bersama Perum Bulog, pihaknya pun senantiasa menggulirkan beberapa agenda.
Di antaranya, beber dia, pendistribusian Program Beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) periode Maret-Desember 2026 sebanyak 828 ribu ton.
"Realisasinya sebanyak 507,75 ribu ton atau 61,32 persen rencana," ungkap Andi Amran Sulaeman.
Program berikutnya bersama Perum Bulog, tambahnya, yaitu mengeksekusi Program Bantuan Sosial (Bansos)Pangan Beras periode Juli-September 2026 bervolume 987,2 ribu ton bagi 32,4 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).(*)
