PENTAS.TV - Seiring dengan adanya cita-cita pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara swasembada pangan, pemerintah bersama seluruh lembaga dan institusi-institusinya, termasuk korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyusun dan mengimplementasikan berbagai strategi jitunya.
Di antaranya, lebih mengaresifkan dan memasifkan penyerapan serta pengadaan beras atau gabah kering setara beras.
Tahun ini, pemerintah menugaskan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) untuk menyerap beras atau gabah kering setara beras petani sebanyak 4 juta ton.
Realisasinya, luar biasa. Yakni ,sekitar 3,2 juta ton atau mencapai 80 persen beban penugasan pemerintah.
Tentu saja, masifnya realisasi penyerapan tersebut berdampak positif . Hingga akhir Juni 2026, stok beras nasional atau Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog semakin berlimpah, yakni sekitar 5,16 juta ton.
Tahun ini, pemerintah mencanangkan volume produksi beras nasional sebanyak 34,77 juta ton, melebihi pencapaian 2025, yang volumenya 34,69 juta ton.
Berlimpahnya stok beras nasional itu membuat beberapa negara menginginkan Indonesia menjadi pemasok beras.
Kabar terbaru, kepada media, Ahmad Rizal Ramdhani, Direktur Utama Perum Bulog, mengungkapkan, Uni Emirat Arab (UEA) punya keinginan untuk mengimpor beras dari Indonesia.
"Volumenya sekitar 50 ribu ton per bulan atau 600 ribu ton per tahun," tandas Ahmad Rizal Ramdhani pada jumpa pers di Gudang Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta, belum lama ini.
Menanggapi kabar tentang keinginan Uni Emirat Arab tersebut, Ahmad Rizal Ramdhani menilainya sebagai sebuah peluang ekspor yang positif.
Purnawirawan perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) ini meneruskan, tidak hanya Uni Emirat Arab, ada beberapa negara lain yang juga berencana mengimpor beras dari Bumi Khatulistiwa, dan saat ini masih dalam tahap penjajakan.
Yakni, sebutnya, Malaysia. Untuk merealisasikannya, pihaknya berdiskusi dengan pemerintah Malaysia soal penawaran sebanyak 500 ribu ton beras.
Lalu, sambungnya, ada juga Singapura, yang volumenya sebanyak 200 ribu ton beras premium. (*)
