PENTAS.TV - Dampak terjadinya berbagai dinamika global, semisal konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum reda, masih terasa.
Satu buktinya, pergerakan rupiah masih belum stabil. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir, cenderung negatif.
Bukti terbaru, pada sesi penutupan perdagangan, 22 Juni 2026 petang, pergerakan rupiah kembali melempem. Posisinya terkoreksi 39 poin.
Artinya, posisi rupiah terbaru lebih lemah 39 poin daripada sebelumnya, yaitu menjadi Rp17.843 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pada sesi penutupan sebelumnya, posisi rupiah lebih baik. Yaitu, pada level Rp17.804 per dolar AS.
Namun, ada kabar yang cukup menggembirakan. Pada sesi akhir perdagangan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia hari ini, rupiah justru menggeliat 7 poin, menjadi Rp17.819 per dolar AS.
Posisi rupiah sebelumnya berdasarkan Kurs JISDOR Bank Indonesia yaitu Rp17.826 per dolar AS.
Dalam keterangannya, pengamat pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, berpendapat, perkembangan rupiah masih dipengaruhi konflik di Timur Tengah, antara AS dan Iran.
Memang, beberapa waktu lalu, AS dan Iran menyepakati perdamaian. Sayangnya, Presiden AS, Donald Trump, menyatakan adanya kemungkinan aksi militer di Libanon.
Dalihnya, untuk memerangi Hizbullah. Namun, kata Ibrahim Assuaibi, potensi aksi militer di Libanon itu bisa tidak terjadi seandainya Iran turun tangan untuk menangani Hizbullah. (win/*)
