PENTAS.TV - BANDUNG, Idealnya, setiap korporasi berbalut Badan Usaha Milik Negara (BUMN) senantiasa menorehkan performa dan kinerja apik serta solid.
Namun, yang terjadi pada BUMN logistik, PT Pos Indonesia (Persero) kontradiktif. Kabarnya, performa dan kinerja PT Pos Indonesia (Persero) dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Terungkap, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), ada indikasi, PT Pos Indonesia (Persero) mengalami perkembangan negatif.
Daud Joseph, Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero), mengakui bahwa performa jajarannya mengalami hal negatif.
Selama 2025, beber Daud Joseph, pihaknya meraup income usaha yang secara tahunan, berkurang drastis, yakni 20 persen menjadi Rp3,9 triliun.
"Tahun sebelumnya yakni 2024, perolehan income usaha lebih baik. Nilainya Rp5 triliun," ungkap Daud Joseph.
Realisasi income usaha periode 2025 tersebut, melenceng dari target awal, yang nominalnya Rp6,2 triliun. Persentase pencapaiannya, sebut Daud Joseph, hanya 66 persen.
Efeknya, sambung dia, perolehan gross profit atau laba kotor pun tidak sesuai proyeksi, yang nominalnya Rp2,4 triliun. "Target gross profit 2025 bernilai Rp2,4 triliun. Realisasinya Rp1,5 triliun," sebut Daud Joseph.
Pencapaian-pencapaian itu, lanjutnya, juga berimbas pada realisasi Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, & Amortization (EBITDA) alias net income.
Pada akhir 2025, sambungnya, perolehan net income korporasi pelat merah ini jauh lebih sedikit daripada target, yakni hanya Rp300 miliar. Sedangkan proyeksinya, bernominal Rp800 miliar.
Dia mengatakan, selama 2025, lini bisnis yang mengalami perkembangan paling negatif yakni logistik.
Tahun lalu, income lini bisnis tersebut bernilai Rp600 miliar. Perbandingannya dengan 2024, sangat jomplang, yaitu Rp2 triliun.
Meski demikian, ujarnya, pada pelayanan sektor jasa keuangan, antara lain, pencairan dana pensiun, pembiayaan, dan transfer pembayaran sejumlah penagihan pembiayaan tetap survive. Realisasinya, Rp1,2 triliun.
Lini bisnis pelayanan logistik kurir atau logistik under 30 kilo gram pun, tambahnya, itu masih survive, yakni Rp1,8 triliun.
Daud Joseph beralasan, kondisi yang dialami jajarannya tersebut bukan tanpa sebab. Dia tidak membantah bahwa selama ini, pihaknya masih disuapi pemerintah.
Artinya, terang dia, PT Pos Indonesia (Persero) masih mengandalkan proyek-proyek pemerintah, seperti pendistribusian pangan. Tanpa adanya proyek pemerintah, aku dia, pihaknya cukup keteteran.
Terbukti, selama periode 2020-2025, berkat proyek-proyek pemerintah, perolehan income menunjukkan pergerakan positif.
Namun, ketika pada 2025 tidak ada lagi proyek pemerintah, realisasi income terkontraksi cukup signifikan. (win/*)
