PENTAS.TV - Senantiasa membukukan kinerja apik dan solid, sudah semestinya, merupakan keniscayaan mutlak bagi setiap korporasi, yang berpredikat Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Tidak heran, melalui penerapan dan pengimplementasian strategi yang tepat, korporasi perbankan BUMN, PT Bank Mandiri Tbk (Persero), terus menunjukkan performa dan kinerja apik serta solidnya.
Dalam keterangannya, Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy PT Bank Mandiri Tbk (Persero),mengklaim, perbankan berkode emiten BMRI tersebut tetap menunjukkan kinerja apik, solid, dan menterang.
Novita Widya Anggraini mengemukakan, ada beberapa indikator yang membuktikan solid dan apiknya kinerja perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara) itu.
Di antaranya, sebut dia, berdasarkan pelaporan keuangan bank only, realisasi perolehan laba bersih PT Bank Mandiri Tbk (Persero) pada Januari-Mei 2026 lebih masif 18,6 persen daripada periode sama 2025 yakni bernilai Rp23,3 triliun.
Masifnya perolehan laba itu, sambung Novita Widya Anggraini, berpengaruh positif pada perkembangan rasio Return of Equity (ROE), yang posisinya pada level 20 persen.
Selain laba bersih, lanjutnya, secara bank only, aset pun semakin berlimpah. Total nilai aset PT Bank Mandiri Tbk (Persero) hingga Mei 2026, berada pada posisi Rp2.306 triliun, bertambah sekitar 20 persen secara tahunan.
Bagaimana soal fungsi intermediasi?
Novita Widya Anggraini menjawab, hingga berakhirnya periode Mei 2026, nominal penyaluran kredit atau pembiayaan yakni Rp1.580 triliun. Secara tahunan, kata dia, penyaluran kredit itu bertambah 20,6 persen.
Tentu saja, tegas dia, sasaran penyaluran kredit atau pembiayaan tersebut yakni sektor-sektor produktif.
"Antara lain, hilirisasi industri. Kemudian, pembiayaan bagi para pelaku UMKM (usaha Mikro-Kecil-Menengah)," sahutnya.
Kepercayaan publik pun semakin kuat. Indikatornya, tutur Novita Widya Anggraini, yakni bertambahnya nilai pengelolaan Dana Pihak Ketiga (DPK), yang secara tahunan, hingga Mei 2026, bergeliat 22 persen atau menjadi Rp1.716 triliun.
Komposisi terbanyak, kata dia, yaitu Current Account-Saving Account (CASA) atau dana murah, yang terdiri atas tabungan dan giro. Total nominalnya, Rp1.223 triliun.
"Rinciannya, tabungan bernominal Rp559 triliun. Giro bernilai Rp664 triliun," tutup Novita Widya Anggraini. (*)
