Pentas.TV- Spesies kambing gunung yang dikenal dengan nama steinbock ini pernah berada di ambang kepunahan pada abad ke-19 akibat perburuan berlebihan. Saat itu, populasinya diperkirakan tersisa kurang dari 100 ekor di kawasan Gran Paradiso, Italia.
Berkat perlindungan ketat, program penangkaran, dan reintroduksi ke habitat alaminya, Ibex Alpen kini kembali menghuni berbagai kawasan Pegunungan Alpen di Italia, Swiss, Prancis, Austria, Jerman, Liechtenstein, hingga Slovenia dan Bulgaria. Berdasarkan penilaian IUCN pada 2020, spesies ini berstatus Risiko Rendah (Least Concern) dengan tren populasi yang stabil.
Ibex Alpen merupakan salah satu dari sepuluh spesies dalam genus Capra. Satwa ini memiliki dimorfisme seksual yang jelas, di mana pejantan berukuran lebih besar dengan tanduk panjang melengkung yang dapat mencapai hampir satu meter, sedangkan betina memiliki tubuh dan tanduk yang jauh lebih kecil. Warna bulunya didominasi abu-abu kecokelatan dengan bagian bawah tubuh yang lebih terang.
Sebagai penghuni pegunungan, Ibex Alpen terkenal karena kemampuan memanjat tebing yang luar biasa. Kuku tajam dan bantalan telapak kaki yang elastis memungkinkan satwa ini bergerak di lereng curam hingga ketinggian sekitar 3.300 meter di atas permukaan laut. Mereka umumnya menghuni padang rumput Alpen dan kawasan berbatu yang sulit dijangkau predator.
Makanan utama Ibex Alpen adalah berbagai jenis rumput, tanaman herba, semak kerdil, serta pucuk tanaman konifer, tergantung musim. Satwa ini aktif sepanjang tahun dan tidak berhibernasi, meskipun pada musim dingin mereka menurunkan metabolisme tubuh untuk menghemat energi.
Ibex Alpen hidup dalam kelompok sosial yang terpisah berdasarkan jenis kelamin. Pejantan dan betina hanya berkumpul selama musim kawin yang berlangsung pada musim dingin. Pada masa tersebut, pejantan menggunakan tanduk besarnya untuk bertarung memperebutkan betina. Setelah masa kawin berakhir, kedua kelompok kembali hidup terpisah.
Seekor betina biasanya melahirkan satu anak setelah masa kebuntingan sekitar lima bulan. Anak Ibex mulai mampu bergerak hanya beberapa hari setelah lahir dan tetap bersama induknya hingga sekitar lima bulan sebelum mandiri.
Meski populasinya telah pulih, Ibex Alpen masih menghadapi sejumlah tantangan. Rendahnya keragaman genetik akibat peristiwa penyusutan populasi pada masa lalu membuat spesies ini lebih rentan terhadap penyakit dan depresi perkawinan sedarah. Ancaman lain berasal dari kemungkinan hibridisasi dengan kambing domestik yang berkeliaran di habitat alaminya.
Keberhasilan penyelamatan Ibex Alpen kini menjadi salah satu contoh paling penting dalam sejarah konservasi satwa liar dunia. Dari hanya puluhan individu yang tersisa pada abad ke-19, populasinya kini mencapai puluhan ribu ekor yang tersebar di berbagai kawasan Pegunungan Alpen, menjadikan spesies ini simbol keberhasilan pelestarian alam di Eropa.(Aan/*)
