PENTAS.TV – Proyek mobil nasional berbasis kendaraan listrik i2C (Indigenous Indonesian Car) yang dikembangkan PT Teknologi Militer Indonesia (TMI) terus memasuki tahap pengembangan lebih lanjut.
Setelah pertama kali diperkenalkan dalam bentuk clay model pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025, proyek i2C kini bergerak dari tahap penyempurnaan desain menuju rekayasa kendaraan.
Presiden Direktur PT TMI Harsusanto mengatakan, pengembangan saat ini mencakup penyempurnaan modelling, pengembangan skateboard atau sasis, hingga persiapan pembuatan showcar dan prototipe awal.
“Sejak TMI menampilkan clay model EV i2C di GIIAS 2025, TMI melanjutkan tahap penyempurnaan modelling dan pengembangan skateboard atau sasis dengan target peluncuran showcar dan prototype awal,” kata Harsusanto kepada Kompas.com, Jumat (7/8/2026).
Perkembangan kendaraan listrik i2C sebelumnya juga sempat diperlihatkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto dalam acara pengarahan pada Konvensi Sains Teknologi dan Industri (KSTI) di ITB, 7 Agustus 2025.
i2C dikembangkan TMI sebagai proyek kendaraan listrik asli Indonesia yang diharapkan menjadi salah satu cikal bakal mobil nasional.
Dalam pengembangannya, TMI tidak hanya berfokus pada desain kendaraan, tetapi juga mulai menyiapkan strategi produksi agar proyek tersebut dapat masuk ke tahap manufaktur. Salah satu strategi yang disiapkan TMI adalah memanfaatkan fasilitas manufaktur yang telah tersedia di Indonesia.
TMI tidak berencana langsung membangun pabrik kendaraan listrik baru. Sebaliknya, perusahaan berdiskusi dengan sejumlah pabrikan lokal yang masih memiliki kapasitas produksi yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“TMI sudah berdiskusi dengan pabrikan lokal yang masih idle capacity, dan akan bekerja sama untuk memanfaatkan fasilitas yang sudah ada,” ujar Harsusanto.
Menurut dia, kapasitas produksi yang tersedia dinilai masih mencukupi untuk mendukung tahap awal produksi i2C.TMI memperkirakan fasilitas tersebut mampu mendukung produksi kendaraan listrik hingga 50.000 unit dalam tiga tahun pertama.
Target produksi tersebut direncanakan dilakukan secara bertahap, yakni:
| Tahun Produksi | Target |
|---|---|
| Tahun pertama | 10.000 unit |
| Tahun kedua | 15.000 unit |
| Tahun ketiga | 25.000 unit |
| Total 3 tahun | 50.000 unit |
Strategi tersebut memungkinkan TMI mengurangi kebutuhan investasi awal untuk pembangunan fasilitas manufaktur baru dengan kapasitas besar.Selain menggandeng manufaktur lokal, TMI juga menjajaki kerja sama teknologi dengan sejumlah perusahaan otomotif dan desain asal China.
Harsusanto menyebut pihaknya telah berdiskusi dengan sejumlah OEM China, di antaranya SAIC dan SGMW, serta perusahaan desain seperti Launch dan Dowway.
“TMI juga sudah diskusi dengan OEM China misalnya SAIC, SGMW juga design company seperti Launch dan Dowway untuk pengembangan platform generasi baru,” kata Harsusanto.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan platform kendaraan listrik generasi berikutnya.
Menurut Harsusanto, industri kendaraan listrik China memiliki kemampuan teknologi yang kompetitif dibandingkan dengan industri otomotif di Eropa maupun Amerika Serikat.
“Jangan lupa EV China tidak kalah dengan Eropa dan Amerika,” ujarnya.
Kerja sama dengan perusahaan luar negeri tersebut juga menjadi bagian dari upaya TMI untuk memperkuat kemampuan teknologi sekaligus membangun kekayaan intelektual yang dapat dikembangkan lebih lanjut di dalam negeri.
Sebelumnya, TMI menargetkan mobil listrik i2C dapat memasuki tahap produksi massal pada 2027-2028.
Sebelum memasuki produksi seri, pengembangan kendaraan dilakukan secara bertahap, mulai dari desain, pembuatan showcar, prototipe, hingga produksi massal.
TMI juga membuka peluang peningkatan kapasitas produksi apabila permintaan pasar berkembang.
Harsusanto sebelumnya menyebut dirinya pernah ditanya mengenai kemungkinan meningkatkan produksi i2C hingga 100.000 unit per tahun.
“Beliau tanya, bisa enggak 100.000 per tahun? Saya bilang, bisa Pak, tinggal nanti kita tingkatkan. Cuma masalahnya, siapa nanti yang mau beli? Bagaimana cara dia beli?,” katanya.
Karena itu, TMI memilih pendekatan produksi bertahap dengan memanfaatkan kapasitas manufaktur yang telah tersedia. Volume produksi nantinya dapat ditingkatkan mengikuti perkembangan permintaan pasar.
Dengan langkah tersebut, proyek i2C kini tidak lagi sebatas konsep atau clay model. Pengembangannya mulai diarahkan menuju kendaraan yang dapat memasuki tahapan rekayasa, prototipe, hingga produksi massal.
Jika target tersebut berjalan sesuai rencana, i2C berpotensi menjadi salah satu proyek kendaraan listrik nasional yang memasuki pasar Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.(Gih/*)
