Pentas.TV-Bandung, Pelestarian bangunan bersejarah tidak cukup hanya dengan melakukan renovasi atau restorasi fisik. Keberlanjutan fungsi dan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, serta pemilik bangunan menjadi faktor utama agar aset warisan budaya tetap hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Hal itu disampaikan arsitek sekaligus peneliti sejarah arsitektur asal Belanda, Cor Passchier, dalam Pertemuan Bulanan Bandung Heritage yang digelar di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Rabu (17/6/2026).
Dalam presentasi bertajuk Architects and Their Work in Indonesia 1860–1960, Passchier mengajak peserta melihat warisan arsitektur Indonesia sebagai bagian dari kehidupan kota modern yang terus berkembang, bukan sekadar peninggalan masa lalu.
Menurutnya, tantangan terbesar pelestarian bangunan bersejarah saat ini bukan hanya menjaga kondisi fisiknya, tetapi memastikan bangunan tersebut tetap memiliki fungsi yang relevan di tengah pesatnya perkembangan perkotaan.
“Pelestarian warisan arsitektur harus menjadi kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat. Keduanya perlu berjalan searah untuk mencapai tujuan yang sama,” ujar Passchier.
Ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh dipandang sebagai lawan dalam upaya pelestarian. Sebaliknya, komunikasi dan kerja sama yang baik dapat menghasilkan kebijakan yang mendukung keberlangsungan bangunan bersejarah.
Passchier mencontohkan kolaborasi yang telah dilakukan sejumlah organisasi pelestarian bersama pemerintah daerah dalam proses inventarisasi bangunan cagar budaya, penelitian, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan.
Dalam kesempatan tersebut, Passchier juga menyoroti pentingnya konsep adaptive reuse atau pemanfaatan kembali bangunan lama dengan fungsi baru yang sesuai kebutuhan masa kini.
Ia menilai banyak proyek revitalisasi berhasil memperbaiki kondisi fisik bangunan, namun masih menghadapi persoalan ketika bangunan yang telah dipugar belum memiliki fungsi yang jelas.
“Pertanyaan terbesarnya adalah bangunan itu akan digunakan untuk apa setelah direstorasi. Fungsi baru sangat penting untuk menjaga keberlangsungan hidup bangunan tersebut,” katanya.
Menurut Passchier, bangunan bersejarah yang tidak memiliki aktivitas ekonomi atau sosial berisiko kembali mengalami kerusakan meskipun telah direnovasi dengan biaya besar.
Karena itu, pengembangan fungsi baru seperti ruang kreatif, pusat komunitas, destinasi wisata budaya, museum interaktif, kafe, galeri seni, hingga pusat edukasi dapat menjadi solusi agar bangunan tetap produktif dan terawat.
Passchier menjelaskan bahwa investasi dalam renovasi hanyalah langkah awal. Setelah proses restorasi selesai, diperlukan sumber pendanaan dan aktivitas yang mampu mendukung biaya operasional serta perawatan bangunan secara berkelanjutan.
Ia juga mendorong terbentuknya gerakan kolaboratif yang lebih terstruktur antara komunitas, akademisi, peneliti, dan pemerintah untuk mendokumentasikan, meneliti, serta merancang pemanfaatan bangunan bersejarah secara lebih efektif.
Menurutnya, masa depan warisan arsitektur Indonesia bergantung pada kemampuan berbagai pihak untuk menggabungkan pengetahuan sejarah dengan strategi pengelolaan yang tepat.
Pertemuan Bandung Heritage kali ini menjadi pengingat bahwa pelestarian bangunan bersejarah bukan hanya tentang mempertahankan bangunan tua, melainkan memastikan aset budaya tersebut tetap memiliki peran penting dalam kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat modern.
Dalam Pertemuan Bulanan Bandung Heritage di Gedung Indonesia Menggugat, arsitek dan peneliti sejarah arsitektur Belanda Cor Passchier menegaskan bahwa pelestarian bangunan bersejarah tidak cukup hanya melalui renovasi fisik. Menurutnya, keberlanjutan warisan arsitektur membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pemilik bangunan.
Passchier menyoroti pentingnya adaptive reuse atau pemanfaatan kembali bangunan lama dengan fungsi baru yang relevan agar tetap hidup, terawat, dan memiliki nilai sosial maupun ekonomi. Ia juga menekankan bahwa masa depan bangunan bersejarah ditentukan oleh kemampuan menyatukan pengetahuan, strategi, dan kerja sama berbagai pihak untuk menjaga perannya dalam kehidupan kota masa kini.(Aan/*)
