CIREBON, PentasTV – Hamparan mangrove yang hijau di pesisir Desa Karangreja, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, kini menjadi magnet baru wisata berbasis lingkungan.
Ekowisata Mangrove Dewi Surga menawarkan pengalaman menyusuri sungai dengan perahu nelayan, berjalan di jalur kayu yang membelah rimbunnya hutan mangrove, hingga menikmati panorama Laut Jawa dari kawasan konservasi.
Namun di balik keindahan itu, tersimpan persoalan yang jarang terlihat pengunjung. Pengelolaan kawasan konservasi yang telah berkembang menjadi destinasi wisata tersebut masih bergantung pada semangat gotong royong masyarakat.
Dukungan pemerintah daerah dinilai belum sebanding dengan kebutuhan pengelolaan kawasan yang terus berkembang.
Ekowisata Mangrove Dewi Surga merupakan hasil kolaborasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), masyarakat pesisir Desa Karangreja, dan PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).
Kawasan seluas sekitar tujuh hektare yang diresmikan pada 2025 itu dikembangkan tanpa menghilangkan fungsi utama mangrove sebagai benteng alami pesisir dari abrasi, habitat satwa, sekaligus penyangga kehidupan nelayan.
Akses menuju lokasi hanya dapat ditempuh menggunakan perahu. Perjalanan menyusuri alur sungai memperlihatkan rapatnya vegetasi mangrove, burung-burung air yang masih menjadikan kawasan itu sebagai habitat, hingga aktivitas nelayan yang menjadi denyut ekonomi masyarakat pesisir.
Ketua pengelola Ekowisata Mangrove Dewi Surga, Tarji Al Jibang, mengatakan jumlah wisatawan terus meningkat. Menurutnya, kawasan tersebut bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan ruang edukasi mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
"Alhamdulillah, sekarang semakin banyak masyarakat yang datang. Mereka menikmati suasana mangrove yang sejuk, berkumpul bersama keluarga dan teman-teman. Kami ingin tempat ini menjadi ruang wisata sekaligus ruang belajar tentang pentingnya menjaga alam," ujar Tarji dikutip Selasa 14 Juli 2026.
Meski demikian, meningkatnya kunjungan belum sepenuhnya diikuti dengan penguatan pengelolaan. Tarji mengungkapkan biaya pemeliharaan kawasan, mulai dari perawatan jalur kayu hingga fasilitas umum, selama ini masih banyak ditanggung secara swadaya bersama relawan.
"Bagi saya, menjaga mangrove bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan hati sebagai masyarakat pesisir. Kami berharap ada perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui dinas terkait, karena mengelola kawasan seluas ini tentu membutuhkan dukungan, baik tenaga maupun anggaran," ungkapnya.
Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Saat kawasan Dewi Surga diresmikan pada 2025, Pemerintah Kabupaten Cirebon bersama PHE ONWJ menegaskan komitmen menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata berbasis konservasi sekaligus penggerak ekonomi masyarakat pesisir.
Pemerintah bahkan menyatakan akan berkoordinasi agar penataan kawasan berlangsung terarah sehingga mampu menjadi magnet wisata baru.
Setahun berselang, geliat wisata memang mulai terlihat. Namun tantangan menjaga keseimbangan antara konservasi dan aktivitas wisata masih menjadi pekerjaan rumah.
Tanpa dukungan pembiayaan, pendampingan, dan tata kelola yang berkelanjutan, beban pelestarian berisiko terus bertumpu pada segelintir relawan.
Bagi kawasan pesisir yang rentan abrasi dan perubahan iklim, keberadaan mangrove bukan sekadar objek wisata. Ia adalah benteng ekologis yang menjaga garis pantai, tempat berkembang biak berbagai biota, sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
Karena itu, keberhasilan Dewi Surga pada akhirnya tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga dari seberapa kuat komitmen seluruh pemangku kepentingan menjaga hutan mangrove tetap lestari.***
