LIVEPENTAS TV NEWS
📍 Jawa Barat
Loading menu...
LIVEFX MARKET - IDR BASED
Loading FX...
🔴 BREAKING NEWS

Bulog Bocorkan Efek Keekonomian Pengadaan dan Pengelolaan Pangan, Ini Kata Sang Bos

📖 2 menit bacaErwin🕒 Rabu, 5 Agustus 2026 pukul 10.08
Bulog Bocorkan Efek Keekonomian Pengadaan dan Pengelolaan Pangan, Ini Kata Sang Bos

Beberapa petani mengolah hasil panen. | Credit: (Instagram)

PENTAS.TV - Program penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras yang digulirkan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) memang bertujuan untuk memperkokoh stok beras nasional alias Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

Saat ini, volume penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras sekitar 3,4 juta ton. Tentunya, stok CBP pun semakin berlimpah, yakni menjadi sekitar 5,4 juta ton.

Berlimpahnya CBP merupakan strategi pemerintah demi terciptanya stabilitas dan ketahanan pangan nasional, khusus komoditas beras, baik stok maupun harga demi terealisasinya target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah.

Ternyata, pengadaan beras pun memunculkan efek ganda yang positif, alias multiplier effect. Seperti apa bentuknya?

Ahmad Rizal Ramdhani, Direktur Utama Perum Bulog, mengungkapkan, penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras, termasuk pengelolaan pangan berdampak secara keekonomian.

"Dampak keekonomian pengadaan dan pengelolaan beras bernominal Rp48,54 triliun pada semester pertama 2026," tandas Ahmad Rizal Ramdhani.

Nilai keekonomian semester awal 2026 itu, lanjut Ahmad Rizal Ramdhani, melebihi pencapaian selama 12 bulan periode 2025, yang angkanya Rp34,99 triliun.

Melihat hal itu, purnawirawan perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) ini berpendapat, dampak keekomian  pengadaan beras bisa sebagai penunjang sekaligus pemerkuatan perputaran ekonomi nasional, terutama sektor pertanian dan pangan.

Dia mencontohkan,pada 2025, dampak keekonomian pengelolaan CBP dalam bentuk penyaluran Beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) plus bantuan pangan, yang pada 2025 bervolume 795,5 ribu ton  serta 719,3 ribu ton,  menghemat belanja masyarakat, masing-masing bernilai Rp1,99 triliun dan Rp 11,96 triliun

Lalu, sambung dia, efek positif keekonomian  pendistribusian 627,56 ribu ton Beras SPHP serta penyaluran 678,28 ribu ton bantuan pangan pada semester pertama 2026, membuat masyarakat berhemat Rp1,57 triliun serta Rp11,24 triliun.

"Secara kumulatif, tahun lalu, efek keekonomian dua program itu bernominal Rp13,95 triliun. Sedangkan pada paruh pertama 2026, efek keekonomiannya bernilai total  Rp12,81 triliun," papar Ahmad Rizal Ramdhani.

Apabila secara kumulatif, yakni Januari 2025-Juni 2026, dampak keekonomian program Beras SPHP dan Bantuan Sosial Pangan bernominal Rp26,76 triliun. (*)

Disclaimer

Seluruh informasi yang dipublikasikan di pentas.tv disediakan hanya untuk tujuan informasi umum. Redaksi berupaya menyajikan informasi yang akurat, terkini, dan dapat dipertanggungjawabkan, namun tidak memberikan jaminan apa pun, baik secara tersurat maupun tersirat, mengenai kelengkapan, keakuratan, keandalan, atau kesesuaian informasi tersebut.

Segala tindakan yang Anda lakukan berdasarkan informasi di situs ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab Anda sendiri. pentas.tv tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian atau kerusakan yang timbul akibat penggunaan informasi dari situs ini.

Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab/koreksi, silakan menghubungi redaksi melalui halaman resmi pentas.tv.