PENTAS.TV - Sebagai negara agraris, pemerintah bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara swasembada pangan, sehingga tidak lagi terjadi gejolak, baik harga maupun ketersediaan, khususnya komoditas beras.
Agar swasembada terealisasi, ada hal yang perlu diwujudkan pemerintah terlebih dahulu, yakni stabilitas dan ketahanan pangan nasional.
Tentunya, bersama seluruh lembaga dan institusinya, termasuk korporasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), terutama sektor pangan, pemerintah mengaktifkan dan mengagresifkan program penyerapan serta pengadaan beras atau gabah kering setara beras petani lokal.
Seperti apa hasilnya?
Kepada media, Prihasto Setyanto, Direktur Pengadaan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog), mengklaim, hingga 9 Agustus 2026, volume pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) berlimpah.
"Volumenya (CBP) yakni 5,25 juta ton. Penyimpanan dan pengelolaannya tersebar di seluruh wilayah Indonesia," tandas Prihasto Setyanto.
Dia menambahkan, volume tersebut melebihi pencapaian 2025. Hingga bulan terakhir 2025, ujar dia, volume CBP berada pada level 3,36 juta ton.
Prihasto Setyanto meneruskan, berlimpahnya stok CBP itu berkat hasil masifnya penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras petani
Selama Januari-9 Agustus 2026, ungkapnya, realisasi penyerapan dan pengadaan beras atau gabah kering setara beras petani bervolume 3,36 juta ton, mendekati target pemerintah, yaitu 4 juta ton.
Prihasto Setyanto menambahkan, agar kebutuhan masyarakat terakomodir, selama Januari-9 Agustus 2026, pihaknya gencar mendistribusikan CBP dalam berbagai program.
Antara lain, sebut dia, Bantuan Sosial Pangan, Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), bantuan kedaruratan, seperti bencana alam, dan sebagainya.
"Realisasi pendistribusiannya sekitar 1,78 juta ton," pungkas Prihasto Setyanto. (*)
